Kolom Eko Kuntadhi: Bleeding — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Bleeding

Budaya ·
Kolom Eko Kuntadhi: Bleeding

Keuangan KAI babak belur. Demikian juga dengan Widya Karya, Jasa Marga dan PTPN VIII. Keempat BUMN tersebut adalah pemegang saham kereta cepat Whossh. Bayangin. Pendapatan Whoosh setahun hanya Rp1, 5 Triliun. Sementara beban bunga utang saja Rp2 Triliun setahun.

Itu belum biaya operasional dan karyawan.

Kerugian ini harus ditomboki para pemegang saham. Ya, BUMN itu. Mereka megap-megap. Lelah dengan proyek, yang kata bang Faisal Basri (alm) sampai kiamat juga gak akan mungkin balik modal.

Saat dibangun, biaya konstruksi Whoosh membengkak. Awalnya direncanakan Rp86 Triliun, menjadi Rp118 Triliun. Jadi, sejak awal saja bebannya sudah segunung. Duit untuk membiayai proyek ini didapat dari pinjaman China. Utang tersebut dijamin Pemerintah Indonesia.

Artinya, ujungnya nanti, ya, tanggungjawab pemerintah untuk membereskan utang proyek rugi ini.

Dulu Ignatius Jonan sebagai Menhub sangat kritis terhadap proyek ini. Dia yakin proyek Whoosh akan lebih besar pasak dari tiang. Karena itu, mungkin Jonan tersingkir. Sekarang suara Jonan dan bang Faisal bergema lagi. Karena kesemua BUMN itu sudah gak sanggup menanggung kerugian segede gaban setiap tahun. Jika gak ditangani, dipastikan para pemegang sahamnya akan sekarat sendiri.

Masih untung proyek Whoosh. Setidaknya masih berjalan. Coba bandingkan dengan Bandara Kertajati misalnya. Berapa duit yang sudah masuk ke sana dan Bandaranya sempat gak beroperasi. Mungkin karena secara bisnis gak masuk hitungannya.

Nasib yang sama terjadi pada Bandara Gloran (Blora), Bandara Wiriadinata (Tasik), dan Bandara JB Soedirman (Purbalingga). Kesemuanya gak beroperasi padahal duit pembangunnya cukup besar. Baru-baru ini Bandara Doho di Kediri juga gak ada pesawat yang terbang dan mendarat lagi. Usia operasinya gak lebih dari setahun.

Kembali ke Whoosh. Belakangan terdengar kabar proyek itu bakal diperpanjang sampai Surabaya. Pasti butuhkan modal lebih besar lagi.

Investasi pada proyek infrastruktur memang perlu kajian sangat matang. Karena melibatkan angka yang pasti fantastis. Jangan hanya ambisi membangun. Lalu hasilnya gak sesuai harapan. Yang lebih sial, malah mangkrak!

Proyek mubazir ini mungkin gambaran ego dari setiap pemimpin. Biayanya harus ditanggung rakyat juga.