Kolom Eko Kuntadhi: Bukan Soal Teknisi -- Kita Butuh
Menkeu Sri Mulyani diganti. Isunya sih, sebenarnya dia minta mundur. Udah lama keinginan itu diajukan. Tapi Presiden gak setuju. Sri Mulyani gak kuat, mungkin. Apalagi setelah ruang privatenya, rumah keluarganya jadi sasaran penjarahan.
Dia juga harus tampil pembela program pemerintah yang mungkin saja tidak 100% dia setujui.
Keuangan kita cekak. Tapi program unggulan pemerintah kesannya gigantis dengan kebutuhan duit besar. Ada MBG, Koperasi Merah Putih dan jumlah kabinet bongsor.
Sementara pendapatan gak gampang. Deviden BUMN kini gak masuk ke kas negara tapi parkir di Danantara. Mau utang LN, udah kebanyakan. Beban bunga utang kita saja sudah Rp600 triliun setahun. Belum bayar pokoknya.
Mau gak mau, pajak jadi alternatif. Pajak berdampak pada rakyat yang ekonominya lagi susah. Akibatnya kemarahan publik tertuju pada Sri Mulyani.
Saat pergantian Menkeu kemarin pasar merespon skeptis. IHSG anjlok. Rupiah juga terperosok.
Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yadhi Sadewa mencoba menenangkan. Komentarnya penuh percaya diri. Atau terkesan over.
Sebetulnya bukan soal keterampilan teknis Menteri Keuangan yang ditunggu publik. Tapi keberaniannya yang dibutuhkan.
Beranikah Menkeu bicara pada Presiden, misalnya usul mengevakuasi progran-peogram yang boros tapi dampak ekonominya gak signifikan? Beranikah dia mengusulkan evaluasi politik fiskal agar lebih rasional? Beranikah dia menohok sampai ke jantung persoalan itu, meski program yang dimaksud adalah keinginan Presiden langsung?
Jika mentalnya nanti hanya 'yesman.' Asal bapak senang. Atau malah jadi tameng. Ya, hasilnya gak jauh beda. Ekonomi begini-begini saja. Keresahan kelas menengah tetap membuncah.
Pasar kehilangan pesonanya.
Dan kita kembali ke masalah lama. Meski dengan orang baru...