Kolom Eko Kuntadhi: Kisah Ibu Yang Harapannya — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Kisah Ibu Yang Harapannya

Budaya ·
Kolom Eko Kuntadhi: Kisah Ibu Yang Harapannya

Siapa yang sanggup menahan kesedihan ketika membaca kisah tragis ini? Seorang ibu muda di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengakhiri nyawanya di tiang gantungan. Sebelumnya ia menghabisi nyawa kedua anaknya, usia 9 dan 11 tahun.

Utang menumpuk yang digunakan hanya demi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ekonomi yang menjerat. Dan rasa frustasi yang menjalar. Seolah ia hidup dalam lorong gelap tanpa ujung. Ia merasa hidupnya tak lagi bermakna untuk dilanjutkan.

Hidup ibu muda itu seperti Sisifus, tokoh yang dilukiskan Albert Camus dalam buku The Myth of Sisyphus. Sisifus dihukum dewa untuk mendorong batu besar ke atas bukit, lalu sampai di puncak, batu itu menggelinding kembali ke bawah. Lalu Sisifus harus kembali mendorong sampai ke puncak. Begitulah seterusnya.

Kata Camus, Sisifus harus menanggung kerja keras dan penderitaan yang tanpa makna. Sebuah pengorbanan tidak untuk apa-apa. Seperti lorong gelap tanpa cahaya.

Salah satu yang membuat hidup tetap layak dijalankan karena masih adanya harapan. Hope. Harapan bahwa penderitaan ini hanya awal dari kebahagiaan. Harapan bahwa sakit hari ini untuk senang kemudian. Di situlah penderitaan dan kesusahan yang dirasakan jadi punya makna. Bahwa suatu saat nanti, entah kapan, semuanya akan jadi lebih baik.

Tapi, bagi orang seperti ibu muda ini, mungkin semua harapan yang pernah ada di kepalanya sudah kandas. Mungkin ia pernah berharap tapi kenyataan berkali-kali menghempaskannya. Ia berusaha bangkit, lalu ditikam kenyataan lagi. Sampai ia lelah untuk sekadar berharap. Dan, ahirnya harapan itu diakhiri di tiang gantungan.

Ibu muda dan dua anaknya di pelosok Bandung adalah lambang kepiluan kita. Ketika harapan rakyat yang sebetulnya sederhana pelan-pelan dibekap kenyataan.

Doa dan air mata untuk EN, ibu muda di Bandung. Doa untuk kedua anaknya. Doa untuk kita semua. Semoga kita tetap bisa memupuk harapan dan menemukan makna kehidupan.

Semoga kekacauan bernegara tidak menghukum kita, seperti Dewa dalam mitologi Yunani yang menghukum Sisifus...