Kolom Eko Kuntadhi: Maaf, Saya Masih — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Maaf, Saya Masih

Budaya ·
Kolom Eko Kuntadhi: Maaf, Saya Masih

PHK di Gudang Garam. Bisnis lagi jeblok. Industri rokok mengalami penurunan. Tarif cukai naik terus. Harga rokok jadi mahal. Pelanggan lari. Apa mereka berhenti merokok? Gak. Mereka lari ke rokok ilegal tanpa cukai. Sebagian mungkin beralih ke rokok elektrik.

Industri rokok elektrik gak ada unsur petani tembakau di sana.

Saya ingin berbagi data. Di kota seperti Kediri, dimana Gudang Garam berada sekitar 70% ekonomi berputar karena Industri tembakau ini.

Kota lain seperti Kudus juga gak jauh beda.

Temanggung dan sebagian Wonosobo masyarakatnya hidup dari bertani tembakau. Begitu juga di Jember dan beberapa kota lainnya.

Setidaknya ada enam juga orang Indonesia yang terlibat dalam industri tembakau dan olahannya. Mereka hidup dari sana.

Dari harga sebungkus rokok di warung, dua pertiganya buat pemerintah. Berupa cukai dan Ppn. Misal harga rokok Rp10 ribu, Rp7.500 itu buat cukai dan Ppn. Nah,Rp2.500 dibagi mulai dari petani tembakau, pabrik, agen, sampai pengecer.

Pendapatan dari cukai tembakau Rp230 Triliun setahun.

Kenapa tembakau kena cukai tinggi? Karena dianggap produk yang berdampak pada kesehatan. Cukai ditarik sebagai kompensasinya.Tujuannya membatasi rokok. Di sisi lain berharap pendapatan cukai meningkat. Absurd bukan?

Berapa sih, total anggaran kesehatan kita setahun. Termasuk subsidi BPJS, bangun RS, pengadaan alat medis, layanan Puskesmas dan lain-lain? Angkanya Rp218 Triliun pada 2025.

Hohohoho, rokok yang dianggap pembawa penyakit justru cukainya dapat membiayai seluruh program kesehatan kita. Bahkan masih ada sisanya. Padahal gak semua penyakit diakibatkan rokok.

Gula juga jadi salah satu menyumbang penyakit. Diabetes, obesitas, ginjal, sirosis, jantung sampai problem pembuluh darah. Apakah gula dikenakan cukai? Gak. Orang yang sakit karena gula dan BPJS dibayari negara, biayanya rumah sakitnya ditanggung oleh perokok.

Apakah polusi kendaraan gak penyebabkan penyakit? Pasti. Kota-kota besar di Indonesia terkenal dengan polusinya. Apakah kendaraan kena cukai? Gak. Kalau kamu sakit karena polusi dan BPJS dibayai negara. Maka biaya sakitmu ditanggung para perokok.

Bahkan kalau kita malas olahraga. Lalu sakit karena kemalasan itu. Lalu ke Puskesmas menggunakan BPJS disubsidi. Sakit karena malasmu dibiayai perokok.

Mungkin inilah absurditas kampanye anti rokok.

Saya ingat guru saya, Kang Sobary. Intelektual dan penulis. Ia bukan perokok. Dia baru mulai merokok pada usia 58 tahun. Itu juga sekadar pas pus saja.

"Saya merokok karena membela petani tembakau," begitu alasannya.

Saya masih merokok. Ketika tahu angka cukai rokok melebihi APBN bidang kesehatan, saya kok, merasa kayak pahlawan tanpa tanda jasa.

Anda pasti gak setuju.