Kolom Eko Kuntadhi: Trust
Seorang teman bingung, demo beberapa hari belakangan besar, keras dan luas. Sebetulnya apa tuntutan para pendemo? Apakah demo itu disebabkan hanya karena ada anggota DPR yang joget? Atau karena pendapatan anggota dewan yang sahohah. Atau karena komentar yang mentolol-tololkan orang?
"Rasa-rasanya hal-hal seperti itu terlalu simpel sampai membuat kemarahan sekeras ini," ujar teman saya lagi.
"Pejabat selalu bilang ada provokator aseng, asing, asu. Bener gak sih?" tanya yang lain.
Soal ada provokator asing, kita gak tahu. Isu itu selalu dilontarkan tapi sampai saat ini gak pernah tuh, povokator asing ditangkap. Jika pejabat bisa ngomong, berarti mereka tahu. Kalau mereka tahu, bisa bertindak dong?
Yang paling terasa keresahan ekonomi dan disparitas yang melebar. Di satu sisi, ada lapisan rakyat yang mengais-ngais kehidupan yang semakin berat. Di sisi lain, ada kelompok orang, termasuk pejabat yang hidup seperti di surga.
"Tapi kata BPS indeks koefisien gini menurun. Artinya gap kaya miskin makin kecil?"
Koefisien gini di atas kertas mungkin turun. Tapi 'koefisien gini' di alam nyata makin terasa. Ketika orang protes tunjangan DPR, malah dijawab dengan joget-joget. Itu pertunjukan disparitas yang nyata. Ketika orang harus bertarung nyawa mencari rezeki Rp100 ribu. Ada aggota dewan ngomong, pendapatan Rp3 juta sehari itu gak seberapa dibanding honornya sebagai artis.
Kalau pendapatan artis lebih besar, kenapa sekarang mau makan gaji dan fasilitas dari pajak?
Media sosial menjadikan gap koefisien gini lebih real.
Orang berseragam mempertontonkan keangkuhan. Menteri bicara pajak akan digenjot. Dan kita tahu, kantong siapa yang akan digenjot dan siapa yang akan menikmati. Sementara banyak yang merasa negara alfa dari problem riil mereka.
Intinya adalah ketidakpercayaan. Rakyat hampir gak percaya bahwa para elit yang hidup mewah itu bekerja untuk mereka. Bukan soal joget yang bikin orang protes. Lebih dalam dari itu.
Hari ini kita berduka. Seorang pengemudi Ojol, pergi menghadap sang Khalik. Affan Kurniawan cari rezeki di jalan. Affan Kurniawan mati dilindas di jalan.
"Mas, saya jadi ngerti kenapa pendem gak boleh live di medsos," ujar Abu Kumkum