Kolom Feri Ipenk S. Ginting:
Saat SD, aku malas sekolah dan sering bolos karena malas ketemu dengan guru matematika. Matematika benar-benar menjadi mimpi buruk bagiku karena Bapak dan Ibu menjanjikan akan membeli sepeda kalau aku berhasil mendapat nilai minimal 7 untuk mata pelajaran matematika. Fuck! Apa nilai 9 untuk pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, Bahasa Inggris, Sejarah dan Olahraga tidak pantas dijadikan sebagai tolok ukur pantas tidaknya aku mendapatkan sebuah sepeda?
Jujur saja, aku bukanlah orang bodoh dan dari 4 orang bersaudara akulah satu-satunya anak Bapak dan Ibu yang tidak pintar jika matematika dijadikan sebagai indikator kepintaran.
Aku sama sekali tidak tertarik dan tidak suka pada pelajaran itu. Mungkin bagi orang lain matematika itu menyenangkan. Tapi tidak buatku. Aku memang sama sekali tidak tertarik berbeda dengan pelajaran sejarah, ketika guru menerangkan aku merasa seolah-olah terbang ke masa lalu yang sudah sangat lama itu dan dapat merasakan derap hidup sesuai dengan kenyataan pada masa yang diterangkan oleh guru tersebut. Itulah sebabnya mimpiku sejak kecil adalah menjadi seorang time traveller.
Jadilah... aku tak pernah mendapatkan sebuah sepeda saat masih SD. Untungnya ada bang Raja Kuasa KaroSekali yang selalu bersedia meminjamkan sepedanya jika aku minta.
Saat SMP aku sudah tidak begitu bodoh karena sudah tidak malas bertemu dengan guru matematika, bahkan tidak berani bolos saat pelajaran matematika karena gurunya killer. Tapi aku masih suka bermasalah; bolos sekolah, berkelahi, menghabiskan uang SPP dan hampir tiap hari aku dipanggil oleh guru BK (dulu guru BP). Karena saat itu guru BK nya masih gadis dan rambutnya panjang. Ibu Mewasa Sinuhaji mungkin sudah bosan harus bertemu dan membimbing aku setiap hari sampai tamat SMP.
Saat SMP aku sudah tidak tertarik lagi dengan sepeda meskipun pada masa itu sepeda federal dan sepeda gunung lagi ngetrend di Kota Berastagi. Hampir semua anak seumuranku memiliki sepeda federal. Tapi, seperti kataku tadi, aku sudah tidak tertarik dengan sepeda karena di masa itu aku lebih suka naik gunung dan berkeliaran di hutan.
Di saat teman-teman sebayaku merengek dibelikan sepeda aku malah minta dibelikan carrier bag , tenda dhome, rain coat , jaket dan sepatu hiking booth . Mana mungkin bapak mau membelikan permintaanku, lha wong kegiatanku naik gunung dan berkeliaran di hutan saja sudah membuat Bapak benci setengah mati.
Nah, saat SMA aku juga masih suka bolos, bukan karena malas ketemu dengan guru matematika lagi tapi karena mulai jatuh cinta pada seorang gadis yang kemudian berkata, "Perbaiki dulu cara hidupmu. Aku gak mau berhubungan dengan manusia yang selalu melanggar peraturan dan hidupnya berantakan."
Di sisi lain, ada seorang gadis yang menyukaiku tapi aku gak suka. Jadi aku suka bolos karena malas bertemu dengan keduanya.