Kolom Feri Ipenk S. Ginting: Seputar Kerja Tahun Desa
Catatan kecil seputar Kerja Tahun Desa Seberaya 10-11 Juli 2025. Sebagai sebuah hiburan sudah sangat berhasil. Sungguh, hiburan yang disuguhkan sangat berkualitas. Tapi, tanpa bermaksud mengkritisi. Kegiatan ini bertajuk Gendang Guro-guro Aron, tapi yang ditampilkan adalah parade hiburan, parade para artis dan perkolong-kolong .
Dimanakah para Aron yang sedang bersenda gurau (erguro-guro ) tersebut?
Lalu, pada hari ke dua acara yang dihadirkan panitia mampu menghadirkan senyum dan secercah harapan. Pertunjukan tembut-tembut (tari topeng dari Karo; giant mask) menyelamatkan wajahku, wajah desaku yang merupakan salah satu desa tertua di Kabupaten Karo (tapi aku tidak setuju bila dikatakan desa tertua di Taneh Karo).
Tari topeng (tembut-tembut) ini sangat mengakar dalam jiwa masyarakat Desa Seberaya terbukti dengan antusiasme warga menyaksikan, mengiringi dan menyampaikan doa dan harapannya akan hasil panen melimpah dengan cara menghamburkan beras sambil berseru "mbuah ko page " serta harapan akan datangnya hari hujan dengan menyiramkan air ke arah para penari tembut-tembut sambil berseru "udan ko wari ".
Jelaslah bahwa tari tembut-tembut ini adalah kesenian yang tumbuh dari rakyat, bukan budaya feodal ciptaan istana kerajaan.
Kebudayaan yang tidak mengakar di jiwa masyarakatnya adalah pseudo cultural (budaya palsu). Dari hasil pengamatan ini, saya menemukan sebuah pertanyaan. Apakah di tahun-tahun berikutnya kita akan tetap memakai konsep Gendang Guro-Guro Aron tanpa aron seperti tahun ini? Bukankah lebih baik mencoba menerapkan sebuah konsep baru?
Misalnya kirab Budaya atau Festival Kesenian Seberaya; malam dikemas dengan konsep hiburan melalui performance dari para artis dan bintang tamu, siangnya diisi dengan kegiatan budaya. Tapi sudahlah.... kita mungkin lebih memilih untuk menjerumuskan diri ke dalam cara berpikir yang salah. Gendang guro guro aron tanpa aron mungkin tidak terdengar janggal bagi kita.
By the way, dari segi entertainment, panitia sudah sangat berhasil menyuguhkan hiburan berkualitas. Tinggal bagaimana kita mengisi segi budayanya saja agar kerja tahun tidak semata menjadi kegiatan yang sifatnya hura-hura saja tetapi juga mampu menjadi benteng pertahanan budaya.