Kolom Ita Apulina Tarigan: Mendaki
Di awal Oktober 2015, bersama beberapa teman yang masih muda-muda, kami pergi ke Gunung Arjuna. Rencananya mau muncak. Sesampai di Posko Pendaftaran, jagawana menyuruh kami pulang karena ada kebakaran di atas, katanya. Ransel sudah siaga di punggung masing-masing, kembali ke Surabaya rasanya nanggung.
Akhirnya, setelah berdiskusi dan konsultasi dengan jagawana kami akhirnya menuju Gunung Penanggungan.
Cukup ramai saat itu, mungkin mereka juga sama seperti kami, mengalihkan perjalanan. Saat itu kemarau, debu pekat beterbangan. Penanggungan memang tidak setinggi gunung lainnya, tetapi sampai di kakinya langsung nanjak, tidak ada cerita jalan cantik macam ke Semeru atau Lawu.
Sampai di atas, angin kencang bukan main. Mendirikan tenda setengah mati, air harus dihemat, karena di atas tidak ada mata air. Di kejauhan kelihatan Pura Hindu, di sisi puncak seberang perkemahan kami.
Esok pagi, udara dingin menerpa dan para anak muda sedang sibuk membuat sarapan. Saya dan cewek-cewek lainnya (termasuk Egia Sitepu) duduk manis menunggu sarapan pagi dan teh panas. Nikmat banget.
Jelang siang, suasana agak ribut. Beberapa orang naik ke atas berteriak-teriak menyuruh kami segera turun. Mereka sibuk mencari pendaki lainnya. "Kebakaran hutan," katanya. "Segera, cepat… cepat… awas kesusul api," kata mereka. Kami seperti orang gila berlomba turun. Lupa capek, terpeleset jalan lagi… sampai di bawah.
Pulangnya, dari mobil yang kami tumpangi terlihat punggung Penanggungan menyala. Berita radio juga menyiarkan hal yang sama. "Untung… kita sudah turun," kata kami.
Saya ceritakan ini sekedar ingin mengingatkan, betapa merasuknya sistem patriark dalam Masyarakat Indonesia. Kematian 2 Ibu hebat di Puncak Cartenz seolah menjadi kesalahan mereka.
Saya yakin, persiapan mereka luar biasa matang, tapi ada hal-hal yang di luar kendali manusia. Untuk itu, kau perlu sabar dan berserah diri.
Merekalah manusia yang berbahagia, meninggalkan dunia saat mengerjakan hal yang dicintainya. Coba tanya dalam dirimu, kapan pernah lagi cintamu menyala-nyala mengerjakan hal-hal yang menjadi passionmu? Atau kau sudah lupa nikmatnya bekerja keras mengerjakan hal-hal yang dicintai.
Keterangan Foto Sampul: Kami sebagian yang sudah kelelahan menuruni Penanggungan.