Kolom Juara R. Ginting: — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting:

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting:

Etimologi adalah perihal asal usul kata. Sebuah kosa kata yang kita pakai sekarang, baik di dalam bahasa daerah maupun bahasa nasional, kemungkinan adalah hasil perubahan sebuah kata lain yang lebih tua. Misalnya "sira" yang dipakai di beberapa bahasa daerah di Indonesia selain Karo yang artinya sama dengan garam, berasal dari kata "pasir" yang berubah menjadi "sir" dan kemudian menjadi "sira".

Etimologi menjadi salah satu hobbi saya sejak membaca buku dari Perpustakaan Pemko Medan pada tahun 1978 (masih duduk di kelas 1 SMA) berjudul Kamus Etimologi Bahasa Indonesia.

Memang kamus ini terbatas pada perbendaharaan kata yang kita pergunakan di dalam Bahasa Indonesia. Tapi, telah berhasil menggugah saya sampai sekarang menelusuri asal usul kata dalam berbagai bahasa daerah, khususnya Karo. Saya rasakan kalau saya berbicara mengenai asal usul sebuah kata, orang-orang pikir kalau saya hanya bermodal perasaan. Seperti asal usul kata RAPAT, itu sudah lama dikenal (sejak Jaman Kolonial) di diskusi Bahasa dan Budaya Indonesia. Bukan hasil rekaan saya sendiri.

Selain merujuk ke penemuan para ilmuan sebelumnya, saya juga berusaha menemukan asal usul kata-kata tertentu yang saya anggap penting di dalam penelitian saya. Namun, saya lakukan itu bukan sekedar feeling, melainkan atas dasar basis penguasaan teori linguistik juga.

Salah satu teori penting di dalam menemukan asal usul kata adalah bahwa kebanyakan bahasa-bahasa daerah di Indonesia adalah turunan Bahasa Melayu dan Bahasa Melayu adalah turunan Bahasa Austronesia. Teori penting lainnya adalah bahwa bahasa-bahasa daerah di Indonesia sudah pula dipengaruhi oleh bahasa-bahasa Sansekerta, Arab, China, Portugis, Belanda, dan Inggris.

Suatu kali, ketika saya berkunjung ke salah satu desa di Thailand, saya berbincang dengan seseorang di desa itu menanyainya apa dalam Bahasa Thai kepala, leher, mata, badan, dan lain sebagainya. Hingga tiba waktunya dia menyebut manuchia untuk menyebut apa yang kita sebut orang atau manusia.

Dari situlah saya sadar kalau kosa kata manusia di dalam Bahasa Indonesia maupun Karo (jelma manusia ) adalah Sansekerta karena Indonesia dan Thailand berbeda rumpun bahasanya. Indonesia masuk Austronesia, sementara Thailand masuk Indochina.

Ada satu kosa kata yang kedengarannya sangat mekaro karena saya kenal itu pertama kali dari nenek-nenek saat melakukan ritual ercibal anjab . Engkahulken kambing atau manuk adalah istilah Karo untuk mengatakan mempersembahkan hewan hidup berbentuk seekor kambing atau seekor ayam.

Kiranya kosa kata "kahul " atau "kaul " dipakai juga di dalam Bahasa Melayu Sumatera. Ketika saya telusuri terus, ternyata berasal dari Bahasa Arab.

Lebih mekaro lagi adalah kosa kata "seluk " yang tidak didapati di suku-suku lainnya kecuali Karo yang artinya kesurupan roh tertentu. Kalau ini bukan turunan Bahasa Melayu maupun Austronesia, dari mana kata ini berasal? Hingga seorang adekan saya di USU mengajak diskusi karena dia mau menulis skripsi tentang "suluk " pada orang-orang Jawa di sekitar Medan.

Saya tanyai dia apa itu "suluk " dan penjelasannya bisa saya ringkas artinya "meditasi" dalam Ajaran Islam.

Begitu juga ketika saya ingin menemukan asal usul kata "kalimbubu ". Di Karo, ada yang mengatakan berasal dari "bubu" (perangkap ikan) tapi ada juga yang mengatakan dari "mbut-mbut " (ubun-ubun). Akhirnya saya menemukan sebuah kepastian ketika membaca Kamus Bahasa Singkel--Indonesia dimana dikatakan "kalimbubu " artinya ubun-ubun.

Semakin pasti lagi saya ketika seorang informan di Samosir mengatakan "tulang " (mother's brother atau wife's father) berasal dari kata "tula " yang artinya ubun-ubun.

Lebih lanjut lagi, penemuan asal usul "tulang " membawa saya ke penemuan lebih lanjut setelah mengingat kosa kata "tula " adalah Berngi ke 15 di dalam Kalender Karo. Berngi ke 15 adalah SETENGAH dari 30 berngi dalam 1 bulan (paka ). Kalau kita membayangkan 1 bulan itu adalah tubuh seorang manusia, maka posisi Berngi TULA persis sama dengan ubun-ubun di tubuh manusia.

Kembali kita harus menguasai teori-teori yang dalam hal ini dikenal di dalam Antropologi sebagai Bodily Representation. Demikian juga SOCIETY biasa dihadirkan (represented) sebagai seekor hewan kurban (animal sacrifice). Perhatikan dalam acara Nurun-nurun Cawir Metua sebelum ada catering. Seekor kerbau wajib disembelih.

Keempat tulan putu r (pangkal paha) kerbau diberikan ke SANGKEP NGGELUH: Sembuyak, Anak Beru, Kalimbubu, dan Senina . Bagian-bagian halusnya (bagian dalam dan buah dada) dicampur darah dan dijadikan bohan-bohan untuk dipersembahkan sebagai lauk tambahan kepada Perkade-kaden 12. Kepala dan ekor disisakan untuk makan malam saat diadakan Runggu AnakBeru--Senina (membicarakan utang piutang acara).

Daging selebihnya menjadi lauk untuk semua orang yang hadir.

Jadi, SOCIETY dihadirkan melalui sebuah sistim klasifikasi tertentu dalam bentuk body dari seekor animal sacrifice. Orang-orang Karo sendiri di generasi ayah saya biasa mengucapkan: "Kai patungna? " Untuk menanyakan hewan apa yang dijadikan lauk. https://www.youtube.com/watch?v=pHL1WoJdnz4&t=52s