Kolom Juara R. Ginting:
Banyak istilah yang dipergunakan khalayak ramai saat ini tanpa disadari berasal dari sebuah 'percakapan' (discourse) di dunia ilmiah di masa lalu. Ketika dia 'lepas' sebagai istilah umum dan merakyat pula, pemahamannya pun menjadi bebas dan bahkan jauh dari arti awal. Sayangnya, orang-orang bahkan kalangan ilmiah akademik menggunakan istilah itu sebagaimana perasaan khalayak umum memahaminya tapi percaya bahwa itu pengertian ilmiah.
Salah satu contohnya adalah penggunaan kata SERUMPUN. "Kita bukan sesuku, tapi serumpun," demikian kira-kira ringkas uraiannya.
Kalau kita lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, serumpun artinya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Serumpun bambu berasal dari satu batang bambu yang dipacak ke tanah dan kemudian tumbuh berkembang menjadi serumpun bambu.
Demikian juga halnya dengan pisang yang bisa tumbuh kembang menjadi serumpun dari satu anak batang pisang yang ditanam.
Kata serumpun mulai populer di Asia Tenggara sebagai sebuah istilah pengelompokan sosial dengan istilah Rumpun Melayu. Orang-orang Indonesia, Malaysia, Brunei Darusalam, dan Filipina disebut sebagai Rumpun Melayu untuk membedakannya dengan orang-orang Tionghoa, India, Arab, Jepang, dan Papua.
Penggunaan Bahasa Melayu sebagai linguafranca di Asia Tenggara memperkuat gagasan Rumpun Melayu. Akan tetapi, dasar penggunaan istilah ini bukanlah kesamaan bahasa, tapi kesamaan ras, yaitu Ras Melayu.
Kam boleh mengatakan Ras Melayu adalah Subras Mongoloid, tapi tetap saja penyatuan Melayu sebagai sebuah rumpun berdasarkan pemikiran RACIAL untuk tidak dikatakan RACIST. Diawali dengan asumsi kesamaan warna kulit (sawo matang), rambut (hitam lurus dan kadang sedikit bergelombang), ukuran tubuh (dengan tinggi sekitar 150 - 165 cm), hidung tidak terlalu pesek seperti Tionghoa dan tidak mancung seperti Arab dan India.
Asumsi itu sesuai dengan teori besar pada jamannya tentang gelombang migrasi dari Daratan Asia ke Kepulauan Asia Tenggara.
Tapi, meskipun awalnya didasarkan pada asumsi-asumsi ilmiah, Rumpun Melayu semakin penting sebagai sebuah gerakan politik, terutama di Malaysia dengan dibentuknya Partai UMNO.
Melayunisasi Malaysia mendorong terbentuknya Negara Singapura karena orang-orang Tionghoa merasa tertekan di Malaysia. Demikian juga Suku Orang Asli yang didesak ke pedalaman oleh Pemerintah Malaysia karena dianggap keturunan Ras Negrito.
Dari gerakan politik itu berkembang pula pemikiran kalau Melayu itu beragama Islam. Sementara orang-orang Tionghoa, Hindia, dan Suku Orang Asli bukan Islam. Suku Orang Asli umumnya Kristen karena mendapat penyiaran agama Kristen dari para missionaris Barat.
Atas perkembangan gerakan politik itu, maka tumbuh pula pemikiran kalau perbedaan Melayu dan Bukan Melayu adalah berdasarkan agama. Melayu Islam dan semua yang bukan Islam dipastikan bukan Melayu.
Perkembangan BELAKANGAN itu dijadikan pula asumsi dasar dalam menilik kepustakaan lama meskipun kepustakaan lama itu terbit sebelum ada gagasan Melayu pasti Islam.
Misalnya saja laporan John Anderson tentang perjalanan menuju Sunggal di tahun 1823. Dia menekankan kalau penduduk Kampung Ilir, tempat tinggal Sultan Deli di Medan Deli sekarang, adalah orang-orang Aceh yang berpakaian ala Aceh.
Anderson tidak menyebut mereka Melayu. Tapi sebagian orang memaksakan pemikirannya untuk mengatakan sebutan Batak kepada orang-orang Karo yang bertetangga dengan mereka karena mereka bukan Melayu.
Elia Nethscher, Residen Siak, melaporkan pemakaman Sultan Deli dilakukan melalui 2 tahap. Pertama, ibadah Islam dan ke dua, Adat Karo. Para kerabat Karo dari Sultan Deli (istrinya yang paling dicintainya adalah Beru Surbakti putri Datuk Sunggal) datang menari ke hadapan jenazah dengan diiringi musik tradisional Karo Gendang Lima Sendalanen.
Musik Karo juga yang mengiringi Sultan Deli ke pemakamannya. Itulah sebabnya seorang mahasiswa Universitas Hawai (USA) menulis thesis masternya (atas bimbingan Prof. Andaya) menganalisis pemakaman Sultan Deli ini (berdasarkan laporan Nethscher) dengan menggunakan desertasi Rita S. Kipp (The Idiology of Karo Kinship, 1976) mengenai pemakaman Suku Karo sebagai satu-satunya rujukan. https://www.youtube.com/watch?v=z0eeZL18om0&list=PLmHX4LLBy647wKKLISXqJjszn5DBfyaaw
Menarik, bukan? Menganalisis pemakan Sultan Deli dengan merujuk ke pemakaman Adat Karo. Hem........ Dan, pembimbingnya adalah Prof. Dr. Andaya).
Di Masa Kolonial, Pemerintah Belanda mengirimkan guru-guru Islam asal Jawa ke Deli. Oleh karena itu, Islamnya Melayu lebih mirip dengan NU daripada Muhammadiah. Salah satu contohnya adalah adanya acara Wiritan di kalangan Melayu yang tidak dikenal di Muhammadiah.
Masih perlu dipertanyakan kapan Deli menjadi Melayu dan hati-hati mengatakan Batak adalah sebuah himpunan orang-orang pedalaman yang bukan Melayu.
Membaca kepustakaan lama apalagi sumbernya dari orang ke dua dan bahkan orang ke tiga yang mengutip kepustakaan lama itu hanya akan menghanyutkan anda ke Cocokologi yang seolah-olah dan seakan-akan sesuai dengan pemikiran anda.
Seperti halnya Dayak dikatakan serumpun katanya hanya karena mereka mengemban kebudayaan yang mirip dan membedakannya dengan Melayu yang tinggal di daerah pesisir. Mereka tidak menyadari kalau awalnya istilah Dayak serumpun itu karena mereka diasumsikan memiliki ras yang sama alias satu garis keturunan.
Dalam hal itu, kebanyakan Melayu di pesisir adalah keturunan suku-suku pedalaman yang dikatakan Melayu setelah memeluk agama Islam.
Saya jadi teringat beberapa waktu lalu saat memperpanjang paspor saya. Staf Konsulat RI Den Haag datang ke rumah membuat foto saya karena saya belum sanggup ke sana. Ketika saya tanya kepala bagian paspor ini dia asal mana, dia katakan dari Kalimantan tapi dia bukan Dayak.
"Bapak tahu kalau di Kalimantan banyak Orang Melayu, kan?" katanya.
"Tentu saja saya tahu karena saya adalah seorang Antropolog," kataku. Dan terdiam membayangkan dirinya pernah tinggal di Perumahan Kantor Imigrasi di Delitua (Deliserdang). https://www.youtube.com/watch?v=kY8PM_ZXTbk&list=PLmHX4LLBy647wKKLISXqJjszn5DBfyaaw&index=3