Kolom Juara R. Ginting:
Ketika kemarin saya mempertanyakan Denah Pemukiman Kuala (Kecamatan Tigabinaga, Kabupaten Karo) yang dibuat oleh Herman Slaats dan Karen Portier, khususnya terkait tapin, terkesan oleh saya para pembaca kurang memahami pertanyaan saya itu. Ada satu orang yang memahaminya dan membaca postingan saya karena saya tandai akunnya, tapi dia tidak bisa membalasnya karena dia bukan member grup.
Dia kirimkan komentarnya lewat messenger ke saya dan kemudian kami diskusi lewat telefon. Dia adalah Elizabeth Barus.
Pertanyaan saya kemarin intinya melihat kejanggalan dimana Slaats dan Portier mengatakan tapin dilaki sebagai tempat upacara (Ceremonial). Saya agak keberatan karena di mana-mana tapin tunggal yang menjadi tempat upacara seluruh kampung sehari-harinya adalah tapin diberu .
Memang tapin tempat upacara itu disebut juga tapin kuta karena milik bersama seluruh warga kampung. Beda dengan Tapi Rumah Julu, Tapi Rumah Jahe dan lain sebagainya yang hanya milik kelompok-kelompok tertentu di kampung yang sama. https://www.youtube.com/watch?v=nk1GjJc-rJA&t=33s
Lain lagi dengan tapin-tapin dekat perladangan yang bisa saja menjadi tempat laki-laki maupun perempuan secara bergantian. Terkadang tapin dilaki dan tapin diberu lokasinya sama, hanya dipisah oleh sebuah dinding agar tidak saling melihat. Contohnya adalah Bintang Meriah dan Dokan yang kebetulan sama-sama pancuran. Lain pula dengan Berastepu sewaktu saya kecil hanya dipisah oleh lambe-lambe pola sehingga bisa saling melihat (Tapin Lau Borus).
Ada beberapa upacara yang wajib dilakukan di tapin kuta sehingga Slaats dan Portier menamainya Ceremonial, tapi dua diantaranya paling utama adalah ngembah anak ku lau dan erpangir ku lau . Semua laki-laki maupun perempuan bisa masuk ke tapin kuta saat upacara yang manapun juga. Akan tetapi, selesai upacaranya, tapin yang sama kembali menjadi tapin diberu .
Hanya di tapin diberu ada batu indung , yaitu batu penggilingen pulungen kuning/ tawar dadanak dan ibu hamil/ baru melahirkan serta tempat mikpik pulungen pangir .
Ingat lirik mangmang raleng tendi yang memuji kecantikan tendi si anu: "Jari-jarina bagi beru lau nandangi batu indung " (Beru Lau adalah sejenis ikan sungai). Atau mangmang raleng tendi lainnya: " Kabang menda, manuk .... manuk simbulan, tepetna ku batu indung, ndapetken tapin kuta. Naktak menda mbuluna sada, naktakken banga kalesa ...."
Secara praktis memang tapin diberu dilengkapi berbagai keperluan perawatan ibu dan anak yang tidak kita dapati di tapin dilaki . Tapi secara kosmologis-mitologis, sebuah kuta didirikan di atas barung-barung . Dalam konteks tertentu, sebuah pemukiman berdiri sebagai sebuah kuta , tapi di konteks lain pemukiman yang sama berdiri sebagai barung-barung .
Tinggal di barung-barung adalah tinggal di wilayah laki-laki (Virilocal Residence), sedangkan tinggal di kuta adalah tinggal di wilayah perempuan (Uxorilocal Residence). Ngembah anak ku lau adalah sebuah ritual yang menghantarkan sebuah keluarga dari sebuah kuta ke sebuah barung-barung .
Walau mereka berangkat dan kembali ke rumah yang sama, sewaktu berangkat rumah itu bagian dari kuta , dan sewaktu kembali rumah itu sudah merupakan bagian dari barung-barung . https://www.youtube.com/watch?v=0olSsOg8zNk
Erpangir ku lau adalah sebuah ritual yang berangkat dari sebuah barung-barung (virilocal residence) ke sebuah kuta (uxorilocal residence). Dalam banyak mitologi Karo, contohnya adalah Si Mandupa dan Negeri Kepultaken -- Negeri Kesunduten, untuk memasuki kuta , sang hero harus melewati tapin diberu .
Dan memanglah, tapi diberu adalah pintu gerbang memasuki sebuah kuta secara kosmologis yang merepresentasekan sebuah pulau (Ingat Tanjung Pulo). Setelah melewati tapin diberu kitapun memasuki hutan yang mengelilingi rumah kuta , disebut pulo kuta (Ingat lagu Gula Tualah).
Dalam banyak mitologi Indonesia, termasuk Karo, putri khayangan disebut mandi ke tapin . Sang hero mencuri pakaian Putri Bungsu sehingga dia tidak bisa kembali lagi ke langit (baca: ke Kuta ).
Dalam sebuah tulisan saya yang diterbitkan oleh Center for NonWestern Studies (CNWS) Universitas Leiden, saya mengatakan peristiwa mitologis ini adalah seperti yang terjadi pada peristiwa nangkih ; yaitu membawa seorang perempuan dari bertempat tinggal UXORILOCAL RESIDENCE (kuta ) ke VIRILOCAL RESIDENCE (barung-barung ).
Kerja erdemu bayu adalah menjadikan barung-barung si pria sebagai bagian dari kuta si perempuan (mirip sebuah pernyataan TAKLUK) dalam bentuk pemberian mas kawin. Makanya erdemu bayu selalu diadakan di kuta pihak perempuan. https://www.youtube.com/watch?v=zv1sMAWKffE
Ketika membaca literatur asing yang mengatakan tapin dilaki yang Ceremonial, nanti kita mengatakan nininta motu (karena buku-buku mengcopy-paste pernyataan yang sama) dan kita terima begitu saja padahal, seperti lagu Ebiet G. Ade "masih ada waktu" untuk memeriksanya sendiri.
Ninindu i kuta ma enggau nge makai HP? Teleponi gundari, tou (logat kami Urang Julu).
---------------------
PENJELASAN Elizabeth Barus MENGENAI TAPIN KUALA
Diwarnai merah adalah Lau Gergoh-(tapin diberu arah datas tapin dilaki arah teruh ). Diwarnai kuning Lau Elok_lokasi erpangir . Sehari-harinya menjadi tapin diberu dan anak anak.
Diwarnai biru adalah Lau Tengah (tapin diberu ). Bernehenna Lau Gunung (tapin dilaki ).
Petanya benar penamaannya kurang tepat, sebab letak Lau Gergoh sebelah kanan jembatan kalau kita dari Tigabinanga