Kolom Juara R. Ginting: 2 Pengertian
Ada 2 pengertian mitos yang saling berlawanan satu sama lain. Satunya, mitos biasa diartikan dongeng atau sebuah kisah khayalan belaka yang bukan didasarkan pada peristiwa tertentu atau rangkaian peristiwa di masa lalu. Satunya lagi, adalah sebuah kisah yang merekonstruksi realitas tertentu dalam sebuah rangkaian meta language.
Untuk memahami istilah "meta language" mari saya ingatkan terlebih dahulu istilah-istilah metafisik dan metafor.
Metafisik adalah adanya peristiwa atau serangkaian peristiwa tanpa benda material yang sering diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia "gaib". Sementara metafor adalah sejenis pengungkapan tentang sesuatu dengan sesuatu lain. Misalnya "bagi belo la ertangke " (bagai daun sirih tak bertangkai daun) dimana seikat sirih berisi 20 (siwah sepulusa) lembar daun sirih, tapi biasanya dihitung hanya jumlah tangkai daunnya.
Hidup seseorang diandaikan bagai "belo la ertangke " karena dia ada dalam himpunan (misalnya tegun sembuyak ), tapi dia dianggap tidak ada di situ (karena miskin atau berpendidikan rendah dan lain sebagainya). Inilah salah satu contoh metafor, memaparkan kenyataan hidup seseorang dengan mengandaikan manusia bagai daun sirih.
Jadi, tentu saja ini bukan dongeng atau khayalan belaka kalau hidupnya bagai sehelai daun sirih tanpa tangkai daun. Seringkali dengan metafor seperti itu justru sebuah realita semakin jelas bisa dipahami. Dari contoh ini, metafor dapat terjemahkan perumpamaan atau dalam Bahasa Karo "anding-andingen ".
Namun begitu, "meta language" jauh lebih kompleks dibanding metafor. Seperti halnya kisah Si Mandupa yang mencuri pakaian Putri Bungsu (Si Uncu) yang sedang mandi di sebuah tempat mandi (tapin). Akibatnya, Putri Bungsu tidak bisa terbang kembali ke khayangan ditinggalkan oleh keenam kakaknya.
Si Mandupa membawanya pulang dan mereka tinggal bersama hingga memiliki seorang anak. Suatu ketika, Putri Bungsu menemukan pakaiannya dan diapun terbang kembali ke khayangan lewat "tarum". Si Mandupa berusaha menemukannya dengan mengayuh sampan melintasi samudera hingga dia melihat ada tali bergelantungan dari langit.
Si Mandupa memanjat langit lewat tali itu hingga dia terhempas di sebuah tempat mandi perempuan (tapin diberu). Dari sana dia memasuki kampung dan menemukan Putri Bungsu. Tapi, orangtua Putri Bungsu harus mengujinya terlebih dahulu. Setelah melalui ujian yang berat akhirnya diadakan upacara perkawinan.
Seolah-olah itu sebuah kisah yang terjadi di masa lalu, tapi sebenarnya adalah sebuah rekonstruksi realitas yang masih kita alami pada masa kini. Tinggal serumah dengan Putri Bungsu hingga memiliki anak adalah perkawinan Nangkih (dari tapin ke rumah), sementara perkawinan di atas langit (kuta) adalah Erdemu Bayu yang selalu diadakan di lokalitas si istri.
Bagaimana bisa Putri Bungsu terbang ke langit lewat tarum ?
Sudah beberapa kali saya menulis kalau konstruksi rumah adat Karo terdiri dari karang dan tarum . Tarum adalah semua bagian rumah yang menutup karang (termasuk dinding dan lantai selain atap). Tarum adalah rumahnya leluhur, sementara karang adalah rumahnya sebuah keluarga manusia.
Mari kita fokus sebentar acara mukul yang disebut juga amak dabuhen . Dulunya diadakan di kampung pihak pria tapi acara itu sendiri adalah untuk mengklaim jabu mereka adalah perluasan dari wilayah pihak perempuan. Disebut amak dabuhen merujuk ke tikar-tikar yang digantung untuk menjadikan bagian tayangen dari sebuah jabu menjadi bilik . Dabuhen = dibentang dari langit.
Malam pertama, kelima perempuan pihak perempuan yang menerima Mas Kawin di kampung pihak perempuan datang memberi sepasang pengantin makan di dalam bilik dan sekaligus mengklaim jabu itu adalah tempat mereka. Makanya, ketika si istri hamil 200 berngi (sering disebut salah tujuh bulanan), setelah acara mbesur-besuri si istri ditemani oleh ibunya tidur di jabu sementara suami harus tidur di jambur.
Kisah Si Mandupa dus adalah mitos yang artinya bukan dongeng ataupun khayalan belaka, tapi sebuah rekonstruksi dari praktek kehidupan yang dilaksanakan oleh manusia di kekiniannya.
Oleh karena itu, bapak antropologi struktural dan filsafat strukturalisme (C. Levi-Strauss) menyebutnya THE SCIENCE OF MYTHOLOGY.
Hanya saja, ada pula yang mencampuraduk mitos dalam arti "meta language" ini dengan peristiwa sejarah sehingga kisah yang seharusnya dipahami secara "meta language" jadi diartikan sebagai peristiwa sejarah.
Contoh kecil, seseorang mengamuk sekali pada saya ketika saya mempertanyakan apakah sudah pasti Barus yang dikatakan asal Sibayak Barus Jahe di Mitos Rumah Sipitu Ruang adalah Kota Barus di Pantai Barat Sumatera. Saya sarankan dia memahami kisah itu sebagai sebuah "meta language" bukan sebagai sebuah peristiwa sejarah.
Soalnya, di versi lain Sibayak Barus Jahe dikatakan berasl dari kepompong sejenis serangga seperti kidu dari sebatang pohon di Kuta Usang. Satu versi lainnya, Sibayak Barus Jahe dikatakan berasal dari Bukum (dekat Bandar Baru sekarang).
Catatan penutup. Mengatakan Sibayak Barus Jahe berasal dari Kidu adalah upaya mengingatkan adanya proses METAMORFOSE.