Kolom Juara R. Ginting: Ada Batak, Ada Toba Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Ada Batak, Ada Toba Dan

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Ada Batak, Ada Toba Dan

Saya melihat ada beberapa penggiat KBB (Karo Bukan Batak) yang menjelaskan apa yang mereka katakan Batak adalah sebenarnya Toba. Penjelasan ini benar dan sekaligus salah. Sebagai bentuk sebuah penjelasan bolehlah kita anggap benar sementara waktu sepanjang menjelaskan juga yang dimaksud Toba di sini adalah sekelompok masyarakat yang di dalam dunia tulis menulis (kepustakaan) biasa disebut Batak Toba.

Begitupun, para penggiat KBB sendiri harus menyadari kalau menyebut Toba saja bisa diartikan pula nanti bagian dari Batak (bukan Batak keseluruhannya) karena Batak keseluruhannya terdiri dari 1. Toba, 2. Samosir, 3. Humbang, dan 4. Silindung.

Berdua Toba dan Samosir disebut Sumba, sementara berdua lainnya Humbang dan Silindung disebut Lontung.

Itu tandanya kalau sebutan Toba (yang tidak sejajar dengan Batak tapi merupakan bagiannya) adalah relevan di dalam sistim klasifikasi sosial Batak yang membagi masyarakatnya (Masyarakat Batak) ke dalam dua Moiety (paruh): Sumba dan Lontung. Sumba dibagi lagi ke dalam dua fratri (Toba dan Samosir) serta Lontung ke dalam 2 fratri lainnya (Humbang dan Silindung).

Coba bandingkan dengan klasifikasi Masyarakat Minangkabau yang terdiri dari dua moiety: Koto-Piliang dan Bodi-Caniago. Seperti marga-marga (clan) Batak terurai ke dalam empat fratrinya (Toba, Samosir, Humbang, dan Silindung), suku-suku (clan) Minangkabau terurai ke dalam empat fratrinya juga (Koto, Piliang, Bodi, Caniago).

Bagaimana memahami marga-marga Batak TERURAI ke dalam empat fratrinya?

Mari perhatikan sejenak marga-marga yang disebut Parna (spt. Simbolon, Simarmata, dan lain-lain), memiliki tanah ulayat hanya di wilayah Samosir. Tidak ada didapati di bagian Tano Batak lainnya. Sementara marga-marga seperti Tobing, Hutabarat, Panjaitan, Siregar dan Panggabean tanah ulayatnya hanya didapati di Silindung (tidak ada di daerah lain).

Hal yang sama terjadi pada marga-marga Batak lainnya yang tanah ulayatnya hanya ditemukan di wilayah Toba atau di wilayah Humbang.

Sangat berbeda dengan Karo yang setiap Pesta Tahunan kampung-kampungnya menampilkan Aron Beru Si Lima dengan pengertian, di masing-masing kampung Karo ada kelima merga induk Karo: Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring, dan Tarigan.

Itu semua saya paparkan agar kam tidak terjebak oleh penjelasanndu sendiri mengatakan Batak itu adalah Toba sehingga Batak dan Toba seolah-olah sama sepenuhnya.

Memang dalam Bahasa Karo lama semua mereka disebut Teba, tapi Toba dan Teba juga tidaklah sama. Perhatikan saja perumpamaan Perahu Toba dalam Bahasa Karo, bisakah diganti dengan Perahu Teba? https://www.youtube.com/watch?v=vn_7mHZR8ug