Kolom Juara R. Ginting: Adakah Beda Suku Dengan Etnis
Di sebuah grup facebook dipersoalkan adanya pembedaan istilah suku dengan etnis sebagaimana tulisan di foto ini (lihat bagian c yang dikurungi). Ada yang mengatakan istilah "suku" sama saja artinya dengan istilah "etnis". Tapi, mengapa surat resmi seperti di foto itu membedakannya? Tidak ada penjelasan resmi mengapa surat resmi itu membedakan suku dengan etnis.
Di tulisan ini saya hendak memperkaya nuansa pemahaman istilah suku dan etnis. Tentang Kosa Kata "Suku"
Kosa kata "suku" biasa dipakai di Indonesia sebagai penyebutan singkat dari "suku bangsa", sementara suku dalam suku bangsa artinya adalah bagian atau komponen. Seperti halnya dalam istilah suku cadang.
Pemakaian istilah suku bangsa dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Minangkabau. "Suku" di dalam Bahasa Minangkabau diartikan sama dengan "marga" atau disebut juga "clan" di dalam Kepustakaan Antropologi. Padahal, secara harafiah suku dalam Bahasa Minangkabau artinya seperempat dari keseluruhan.
"Jam satu lewat suku," biasa diucapkan untuk menyatakan "Pukul 01.15". 15 menit adalah seperempat jam sementara 1 jam adalah 60 menit. Varian dari kata "suku" adalah "siku" seperti halnya dalam penggunaan istilah siku untuk sudut 90 derajat, yang juga artinya seperempat dari keseluruhan lingkaran (360 derajat).
"Suki" dalam Bahasa Karo adalah varian dari suku dan siku. Seperti dalam pemakaian "jabu suki" yang artinya jabu yang menyatu dengan salah satu dari 4 suki (sudut) rumah.
Pemahaman suku yang artinya seperempat dalam Bahasa Minangkabau dapat kita telusuri ke 4 suku utama Masyarakat Minangkabau, yaitu Bodi, Caniago, Koto, dan Piliang yang biasa ditulis Bodi-Caniago dan Koto-Piliang. Semua suku Minangkabau tergravitasi ke keempat suku utama itu. Tentang Kosa Kata Etnis
Etnis atau etnik berasal dari Bahasa Junani "etnikos" yang di dalam Bahasa Nasional Junani menjadi "etnos". Dalam Bahasa Inggris Pertengahan menjadi "ethnic" yang dipakai untuk menyebut kelompok-kelompok sosial yang memiliki ciri-ciri budaya sendiri tapi belum beragama Kristen.
Antropologi memilih menggunakan istilah "ethnic group" untuk menggantikan istilah lama "tribe". Istilah "tribe" dianggap terlalu evolusionistik karena mengindikasikan sebuah kelompok liar atau barbar yang cenderung tidak memiliki kebudayaan selain kebiasaan-kebiasaan seperti halnya cannibalism.
Buku-buku wisata masih banyak menggunakan istilah tribe untuk membuat calon wisatawan Barat semakin terangsang untuk berkunjung, seperti halnya "hill tribes" untuk kelompok-kelompok di pegunungan Thailand; a.l. Karen, Aka, Lisu, dan lain-lain.
Demikian juga orang-orang Indonesia masih terikut istilah lama itu untuk mengatakan Batak tribe, Karo tribe, Pakpak tribe, dan lain-lain. Mereka tidak akan menulis Alas tribe, misalnya, karena orang-orang Alas sudah masuk Agama Islam.
Penggunaan istilah "ethnic group" di Antropologi memang agak mirip dengan "tribe". Tapi, ethnic group dianggap lebih sopan karena hanya mengandung pesan belum Kristen atau belum beragama.
Bahasa Inggris Pertengahan mengenal agama Katolik, dimana kehidupan masyarakat diatur secara langsung maupun tidak langsung dari Roma. Oleh karena itu, penggunaan istilah ethnic group dianggap lebih menghargai kelompok sosial yang dimaksud karena mengisyaratkan telah punya budaya yang berciri khas setempat (lokal).
Jelas sekali penggunaan istilah etnis atau etnik di dalam Bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh Kepustakaan Antropologi. Walaupun kebanyakan penggunanya tidak sangat memahami arti etnik, sepertinya orang-orang merasa lebih keren menggunakan istilah etnis atau etnik daripada suku. Membedakan Suku dengan Etnis
Alinia yang dikurung dalam gambar tulisan ini menunjukan adanya pembedaan suku dengan etnis. Sepertinya penulis menggunakan istilah etnis terhadap kelompok-kelompok yang secara hipotesis adalah Batak; Batak Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Karo, dan Pakpak. Sementara istilah suku diberikan kepada kelompok-kelompok di luar hipothetical Batak; Melayu, Nias, Pesisir, dan pendatang.
Bagi saya pribadi, terkesan ada kucing-kucingan dalam tulisan itu. Memang mereka tidak lagi menyebut kelompok-kelompok seperti Karo dan Pakpak adalah Batak, tapi tetap mengindikasikannya begitu.
Mereka sepertinya mengartikan suku semata-mata adalah komponen bangsa sementara etnis sebagai sesuatu yang awalnya belum beragama.
Bagaimana dengan Nias?
Banyak orang menganggap bahwa Nias adalah sepenuhnya Kristen tanpa menyadari Nias bagian Selatan sangat didominasi oleh muslim.
Sulit membuktikannya tapi terasa ada permainan kucing-kucingan dalam pembedaan suku dengan etnis di kasus ini. https://www.youtube.com/watch?v=vZ3L4lOWQj4