Kolom Juara R. Ginting: Anggapan Karo Suku Pedalaman --
Seseorang pernah menulis di fanpage bahwa John Anderson mengunjungi orang-orang Karo pada Tahun 1823 hingga ke Dataran Tinggi Karo. Saya pun mengkritiknya karena John Anderson tidak lebih jauh mengunjungi orang-orang Karo daripada Sunggal.
Orang itu kemudian merubah tulisannya untuk tidak lagi mengatakan John Anderson sampai ke Dataran Tinggi Karo. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa itu?
Banyak orang membaca pernyataan-pernyataan yang ditulis orang lain dan kemudian menuliskan seolah-olah dia juga telah membaca literatur yang disebutkan orang-orang itu. Karena dia melakukan hal itu dalam rangka membuktikan asumsi tertentu, tanpa sadar dia terpeleset oleh fantasinya sendiri.
Asumsi yang mau dia buktikan adalah bahwa Batak adalah sebutan orang-orang luar terhadap "suku-suku" pedalaman di wilayah yang sekarang menjadi bagian Provinsi Sumatera Utara. Penulis itu adalah salah seorang diantara beberapa orang Karo yang merubah haluan dari anggapan bahwa Karo adalah keturunan Si Raja Batak ke anggapan bahwa Batak adalah sebuah himpunan suku-suku yang memiliki banyak persamaan, yang salah satunya adalah sama-sama terlihat primitif dan tinggal di pedalaman Sumatera.
Perubahan haluan itu terjadi setelah para penggiat KBB (Karo Bukan Batak) berhasil menyadarkan banyak orang bahwa Tarombo Siraja Batak adalah mitosnya orang-orang Batak yang tidak dikenal oleh nenek moyang orang-orang Karo. Mereka ingin mempertahankan bahwa Karo adalah Batak dengan mendefenisi ulang Batak adalah himpunan suku-suku pedalaman.
"Batak bukanlah sebuah suku, tapi sebuah rumpun dimana beberapa suku termasuk di dalamnya," kata mereka.
Tentu saja mereka terkejut ketika saya meminta di sebuah grup facebook untuk mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia apa artinya "rumpun". Tapi mereka tidak menunjukkan reaksi apa-apa karena arti serumpun adalah berasal dari nenek moyang yang sama.
Begitu juga ketika si penulis itu tadi mengatakan John Anderson adalah orang Eropah pertama yang menyebut Karo dalam tulisannya. Saya tanya dia di fanpage itu apakah dia sudah membaca buku The History of Sumatera yang ditulis oleh William Marsden (1811). Dia menjawab, baru sebagian karena bukunya tebal sekali.
Saya jelaskan padanya, Marsden menulis banyak sekali mengenai Batak dalam bukunya itu tapi hanya satu kalimat mengenai Karaw, Riah, dan Achin tanpa menyebut Karaw adalah juga Batak. Buku Marsden ini menggugurkan anggapan Karo adalah Batak karena salah satu diantara suku-suku pedalaman Sumatera.
Kembali ke buku John Anderson yang terbit pada tahun 1826 (setelah buku Marsden yang terbit 1811) dengan judul Mission to The East Coast of Sumatera in 1823. Buku ini mengunjungi orang-orang Karo di Sunggal. Di bukunya itu dia menyebut Pulo Berayan dan Meidan.
Sebelum ditemani oleh Sultan Ahmed, putra pengulu Buluh Cina dengan ibu berasal dari Sunggal, rombongan Anderson harus berjalan menyusur sungai untuk menghindari Musuh Berngi. Dalam perjalanan menyusuri sungai itu, beberapa kali Anderson mendengar seruan "mboah" di tempat-tempat pemandian.
Ini artinya, jauh sebelum mencapai Sunggai sudah merupakan wilayah Karo karena kosa kata "mboah" hanya dikenal dalam perbendaharaan Bahasa Karo. Tidak hanya di Karo Jahe, semua wilayah Dataran Tinggi Karo termasuk di Kabupaten Simalungun (Dolok Silo dan Silima Kuta) serta di Kabupaten Dairi (Kecamatan Taneh Pinem, Kecamatan Tiga Lingga dan Kecamatan Gunung Sutember).
Sunggal terletak tidak lebih daripada 40 Km dari tepi laut. Bila jauh sebelum Sunggal sudah digunakan Bahasa Karo, artinya pemukiman orang-orang Karo jauh lebih dekat lagi ke tepi pantai. Maka timbul pertanyaan di benak, seberapa jauh kah dari tepi pantai untuk dikatakan pedalaman?
Lalu, anggapan bahwa "suku-suku pedalaman" itu masih primitif adalah juga sebuah fantasi liar. Anderson menulis bagaimana arsitektur rumah-rumah di Sunggal jauh lebih canggih dari rumah-rumah orang Melayu termasuk rumah Sultan Deli di Kampung Ilir.
Anderson juga menggambarkan anak-anak di Sunggal umumnya mengenakan baju dan celana. Berbeda dengan anak-anak Melayu yang kebanyakan telanjang.
Demikianlah sejenak melihat bagaimana para anti KBB lompat ke sana ke mari, dari sebuah mitos ke fiksi-fiksi yang lain dengan mengolahnya di perut, bukannya di kepala.
Menggunakan istilah Rumpun Batak tanpa pernah melihat di kamus apa arti "rumpun". Hanya bermodalkan fantasi. Mengatakan Karo adalah suku pedalaman sehingga berfantasi kalau Anderson sempat mengunjungi Dataran Tinggi Karo. Mengatakan Karo adalah primitif sehingga disebut Batak padahal menurut Anderson Karo lebih modern daripada orang-orang Melayu. https://www.youtube.com/watch?v=-zWYD4nEMJw&t=59s