Kolom Juara R. Ginting: Apa Maksudnya 'back To
Untuk memastikannya, saya tanya Mbah Google the meaning of 'back to basics'. Dan jawabannya adalah: "If you talk about getting back to basics, you are suggesting that people have become too concerned with complicated details or new theories, and that they should concentrate on simple, important ideas or activities ." Itu saya tanyakan sehubungan dengan seringnya orang mengatakan: "Orang-orang sudah sampai ke bulan kita masih sibuk membicarakan izasah palsu atau asli".
Itu membuat saya ingat ucapan lainnya yang senada: "Orang-orang sudah sampai ke bulan kita masih disibukkan dengan membicarakan Karo Bukan Batak (KBB)".
Kedua ucapan itu merupakan sebuah tuduhan bahwa orang-orang yang membicarakan izasah palsu dan KBB adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan sia-sia (tak ada gunanya) di dalam kehidupan ekonomi maupun kehidupan bernegara. Sekaligus menuduh mereka adalah sampah masyarakat.
Mereka tidak mau berpikir kalau itu terjadi karena ada sesuatu yang belum tuntas. Bagi sebagian orang, soal keaslian izasah atau pelurusan jatidiri adalah sesuatu yang tidak perlu dibahas. Mereka tidak mempertanyakan mengapa negara kita tidak mampu bersaing dengan negara-negara lain dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan perdagangan sehingga posisi tawar politiknya lemah.
Salah satu sebabnya adalah karena masih banyak hal-hal mendasar yang belum tuntas. Hal-hal mendasar itu merupakan fundasi untuk bisa meningkatkan capaian yang lebih tinggi.
Mari kita lihat sebuah contoh kecil di dalam Ilmu Antropologi saja. Indonesia pernah terkenal di dunia dengan banyaknya data-data kebudayaan suku-suku di Indonesia yang didiskusikan di dunia akademik internasional. Tapi, para antropolog yang berasal dari Bumi Indonesia sendiri kelihatannya kurang tertarik pada aneka warna budaya di Inonesia.
Mereka lebih tertarik menulis skripsi, thesis atau desertasi yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh negara cq. pemerintah. Terkesan tidak ada tugas lain dari antropolog kecuali membantu pemerintah menjalankan roda pemerintahan sementara pemerintah sendiri sama sekali tidak tertarik membaca karya tulis mereka.
Lalu, bagaimana pengenalan dan pendalaman kita terhadap aneka warna kebudayaan di Indonesia? Ah, kalau ada antropolog yang tertarik meneliti itu, mereka hanyalah rendahan atau kampungan.
Masih terkait dengan hal di atas, sepertinya tidak ada calon bupati atau gubernur yang berani berkampanye mengatakan dia akan memperkuat kebudayaan daerahnya/ sukunya demi meningkatkan spirit membangun di berbagai bidang lainnya. Kebudayaan diartikan hanya untuk ekonomi secara langsung melalui pariwisata seperti halnya dalam pesta bunga dan buah.
Sepertinya jauh dari pemikiran pemerintah untuk mendorong pertumbuhan sanggar-sanggar seni di desa-desa sehingga anak-anak dan remaja bisa latihan setidaknya pada Akhir Pekan dan latihan mereka menjadi tontonan mengasyikan bagi orang-orang dewasa serta orang-orang lanjut usia.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai peramu wisata di Sumatera Utara (berpusat di Berastagi), saya tahu wisatawan asing juga akan tertarik menonton latihan-latihan itu di desa-desa.
Di pihak lain, sanggar-sanggar seni seperti itu akan menempa para generasi muda kita untuk berkepribadian berbudaya yang salah satunya adalah mengarahkan mereka menjadi kreatif. Kreatifitas bukanlah hanya tuntutan seni, tapi juga tuntutan ilmu pengetahuan dan berbagai profesi lainnya seperti olahraga dan ilmu perang.
Dengan kata lain, sanggar-sanggar seni itu merupakan bagian peningkatan pendidikan bangsa, dan selanjutnya peningkatan pendidikan bangsa akan meningkatkan pula kemampuan di berbagai bidang. Sanggar-sanggar seni di pedesaan juga merupakan peluang kerja bagi para pelaku seni untuk melatih anak-anak dan remaja itu serta mengorganisir pertunjukan-pertunjukan seni di desa-desa.
Kalau memang ada kemauan, betapa sederhananya bagi pemerintah daerah mendorong pertumbuhan sanggar-sanggar seni di pedesaan.
Back to basics. https://www.youtube.com/watch?v=7V2iuf_vXDU