Kolom Juara R. Ginting: Arti Pencerahan Dalam Gerakan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Arti Pencerahan Dalam Gerakan

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Arti Pencerahan Dalam Gerakan

Tulisan saya sebelum ini, berjudul ADAKAH BEDA SUKU DENGAN ETNIS ATAU ETNIK?, merupakan contoh bagus bagaimana perlunya pencerahan dalam Gerakan KBB. Sasaran utama tulisan itu adalah memperluas cakrawala pembaca tentang permasalahan.

Sasaran itu bermaksud agar banyak orang memahami permasalahan sehingga mereka sendiri punya pendapat.

Apakah benar itu editan atau tidak, bagi saya pribadi adalah sekunder yang saya serahkan kepada para pembaca menelusurinya. Penelusuran hal ini juga penting dan primer, tapi tugas utama saya adalah memperluas wawasan pikiran orang-orang Karo terhadap permasalahan di dalam Gerakan KBB sehingga semua orang punya pendapat atau lebih berani mengajukan pendapatnya.

Lagipula, keahlian saya bukan dalam menelusuri internet walaupun saya akui itu penting. Sebagai orang yang pernah memberi kuliah Sejarah Teori Antropologi 1 dan 2 beberapa tahun, banyak diskusi di Dunia Antropologi saya kuasai "di luar kepala". Oleh karena itu, rata-rata tulisan di dinding fb saya selesaikan tidak lebih dari 1 jam.

Posisi memberikan pencerahan ini sudah lama saya lakukan dengan harapan orang-orang Karo memahami apa yang sedang dipersoalkan walaupun pencerahan yang saya berikan kadang ditanggapi sebagai sebuah serangan terhadap para anti KBB.

Suatu kali saya membahas anggapan bahwa Batak adalah kelompok paling tua di "pedalaman" Sumatera Utara. Asumsi ini menurunkan asumsi-asumsi lainnya yang salah satunya adalah bahwa Bahasa Batak adalah induk dari bahasa-bahasa Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing.

Saya tampilkan tulisan Hendri Guntur Tarigan yang mengatakan bahasa-bahasa yang dikatakan Batak itu adalah bagian dari Bahasa Melayu. Lalu, dia menunjukan bagaimana mungkin lebih tua ejaan "ha" (seperti di dalam "hami" dan "hita") dari pada ejaan "ka" dan ejaan "s" (seperti di dalam "pussuk" untuk "pucuk") dari pada ejaan "c", dan lain-lain.

Tulisan H.G. Tarigan itu sebenarnya menanggapi teori P. Tamboen (1952) yang mengatakan Karo berasal dari Haro yang merupakan kombinasi "ha" (abjad pertama dalam Aksara Batak) dan "ro" (kosa kata Batak yang di Karo menjadi "reh", artinya datang). Dengan begitu Tamboen mengatakan Karo berasal dari Bahasa Batak yang artinya kelompok yang pertama datang ke Tanah Karo.

Tulisan H.G. Tarigan yang pakar linguistik mengatakan Bahasa Karo dan Batak sama-sama turunan Bahasa Melayu. Tidak mungkin ejaan "ha" lebih tua daripada ejaan "ka". "Hita" adalah pengucapan lebih muda daripada "kita" di dalam Bahasa Melayu dan juga Bahasa Karo.

Lalu, saya tambahkan kalau Pusuk Buhit secara etimologis berasal dari Bahasa Melayu. "Buhit" adalah varian Melayu "bukit" dan "pussuk" varian "pucuk". "Aek" berasal dari "air" yang artinya di dalam Bahasa Batak adalah "air" atau "sungai".

Selanjutnya, saya tampilkan hasil penelitian Balai Arkeologi Aceh dan Sumut yang menemukan tulang belulang manusia purba yang berusia lebih daripada 5 ribu tahun lalu di Loyang Mandale, Gayo (Aceh Tengah). Menurut Balai ini, DNA manusia purba itu dekat dengan orang-orang Gayo dan Karo masa kini, tapi tidak dengan Batak .

Apalagi, berdasarkan penggalian arkeologi atas permintaan Pemkab Samosir disimpulkan pemukiman tertua orang-orang Batak, Sianjur Mula-mula, tidak lebih dari 1 ribu tahun usianya.

Saya betul-betul diserang saat itu oleh orang-orang Batak di dinding facebook saya sendiri. Mereka menuduh saya tolol. Terutama mereka tidak menerima kalau Pusuk Buhit berasal dari Bahasa Melayu.

Akhirnya saya menyadari, apa yang mereka maksud Melayu adalah orang-orang Melayu di pesisir Pantai Timur dan Pantai Barat Sumatera. Mereka tidak mengenal teori kalau Bahasa Batak adalah bagian dari Bahasa Melayu dan Bahasa Melayu ini adalah bagian dari Bahasa Austronesia.

Mereka mengulangi teori lama yang mendefenisikan Batak adalah Proto Malay (Melayu Tua) sedangkan Melayu Pesisir adalah Deutro Malay (Melayu Muda). Bagi mereka, Bahasa Batak yang Melayu Tua tentu duluan ada daripada Bahasa Melayu Pesisir yang Melayu Muda.

Mereka tidak mengikuti perkembangan diskusi di Ilmu-ilmu Budaya dan Sosial kalau asumsi lama itu sangat didasarkan pada prasangka bahwa Batak hidup terisolir sehingga kurang bergaul dengan dunia luar. Mungkin mereka mengenal Melayu hanya para bangsawannya.

Saya sering mengunjungi orang-orang Melayu yang hidup dari pekerjaan nelayan. Kehidupan mereka sangat sederhana dan sangat minim melakukan kontak dengan dunia luar.

Tapi, bagaimanapun juga, pengkategorian Melayu Tua dan Melayu Muda tidak dipakai lagi untuk mengatakan Batak adalah Melayu Tua.

Pencerahan seperti itu sangat diperlukan untuk menambah kepercayaan orang-orang Karo berpendapat menjadi pro KBB atau penentang KBB. Kalau memang menentang, menentanglah dengan pikiran jernih dan atas modal pengetahuan.

Saya memberi pencerahan kepada pro dan anti KBB. https://www.youtube.com/watch?v=x3kh-I-AhkU