Kolom Juara R. Ginting: Asumsi Bawah
Ada beberapa hal aneh atau janggal dari foto ini. Memang penyebutan Parbaringin sebagai agama tertua tidak salah walaupun masih bisa diperbedatkan. Missionaris Nomensen (Jerman) pernah meminta Pemerintah Kolonial Belanda melarang ritual-ritual yang diadakan oleh Parbaringin karena menganggapnya menghalangi penyiaran agama Kristen.
Okelah kita bisa menerimanya sebagai agama Orang Batak meskipun Parbaringin ini adalah Raja Berempat yang memimpin sebuah huta .
Masing-masing Raja Berempat ini didampingi oleh Anak Borunya sehingga disebut juga Raja Na Walu. Para istri Raja Na Walu juga memainkan peranan penting dalam ritual-ritual Parbaringin. Mereka disebut Parsanggul Na Ganjang.
Hanya saja, pada tulisan terpotong di bawah terlihat kalau penulis menyamakan Parbaringin dengan Parmalim. Padahal, ritual-ritual Parbaringin sudah sempat dilarang oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebelum Sisingamangaraja 12 meninggal dunia. Sementara Parmalim muncul setelah Sisingamangaraja 12 meninggal.
Setelah Sisingamangaraja 12 meninggal, bekas panglimanya (Somalaing Pardede) mencoba menciptakan gerakan Parhudamdam dengan ritual-ritual bersifat magic. Dia mencoba menyebarkan gerakan ini ke Sumatra Timur dimana berkembang pesat perkebunan-perkebunan asing.
Beda dengan Tanah Batak yang daerah miskin, Sumatera Timur (meliputi Langkat, Deli, Karo, Serdang dan Simalungun) adalah daerah kaya. Parhudamdam ternyata kurang diminati.
Pada suatu waktu, datanglah dua peneliti botani dari Italy. Salah seorang diantaranya bernama Modligiani. Mereka ingin mengumpulkan dan mengidentifikasi spesies-spesies tumbuhan baru di pedalaman Tanah Batak. Pemerintah Kolonial Belanda meminta Somalaing Pardede menjadi guide mereka agar mereka "tidak dimakan" oleh orang-orang Batak seperti Munson dan Lehman yang konon hilang di Tanah Batak karena korban kanibalisme.
Di perjalanan itulah Somalaing Pardede menanyai kedua botani mengenai Katolik. Sepulang mereka ke Italy, Somalaing Pardede kemudian menciptakan Parmalim lewat penggabungan ritual-ritual Batak dengan Islam dan Katolik.
Di salah satu tarian kesurupan Parmalim tampak dengan jelas seorang perempuan menari dengan berpakaian tertentu menggambarkan dia kemasukan roh Maria. Intinya, Parbaringin dan Parmalim sama sekali tidak sama.
Kejanggalan berikutnya adalah menggunakan foto pemindahan tengkorak leluhur keluarga Sibayak Kabanjahe dari kuburannya ke sebuah rumah tengkorak (geriten ). Penulis mungkin tidak tahu itu foto Suku Karo atau dia berlindung pada anggapan bahwa Karo adalah bagian Batak.
Tapi, dia luput dari fakta di lapangan, terlepas Karo adalah bagian Batak atau bukan Batak, bahwa di Karo tidak dikenal Parbaringin maupun Parmalim. Lagipula, ritual-ritual Parbaringin maupun Parmalim tidak ada yang berkaitan dengan penggalian tulang belulang.
Memang Batak juga mengenal penggalian tulang belulang manusia yang disebut mangongkal holi , tapi itu tradisi Batak yang di luar khasanah Parbaringin maupun Parmalim.
Kalau di Karo tulang belulangnya ditempatkan di bangunan kayu, di Batak batu yang dilubangi yang disebut Parholian dalam Bahasa Batak atau sarcophagi dalam kepustakaan ilmiah.
Kalau kita mengamati foto ini dengan seksama, maka mencuat sebuah keinginan dari penulisnya menunjukkan Batak itu paling hebat di dunia. Punya ritual seram-seram. Jangan kalian macam-macam (jadi ingat ogap Batak).
Padahal yang ditunjukkannya sudah lama tiada (Parbaringin) atau kreasi baru (Parmalim) dan foto yang asalnya Karo yang bukan Batak. Di Karo sendiri foto seperti ini tidak dianggap seram karena tradisi seperti itu masih berlangsung dan sering dilaksanakan sampai sekarang.
Keinginan bawah sadar orang-orang Batak seperti itu membuat mereka bisa marah sekali bila kita katakan nama gunung kosmologi mereka Pusuk Buhit adalah pengucapan Batak atas dua kosa kata Melayu pucuk dan bukit. Orang Batak menyebut kacang kan hassang dan keras disebut haras yang kemudian menjadi horas.
Mereka tidak mau dikatakan Melayu lebih tua dari mereka. Padahal, menurut penelitian Balai Arkeologi Sumatera Utara dan Aceh, usia nenek moyang orang Gayo dan Karo lebih dari 7 ribu tahun telah menempati Pulau Sumatera, sedangkan usia orang-orang Batak tidak lebih dari seribu tahun menempati Pulau Sumatera.
Segala kajian ilmiah mereka tolak sepanjang tidak mendukung orang Batak yang terhebat di dunia.