Kolom Juara R. Ginting: Berastagi Satu Paket Wisata Dengan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Berastagi Satu Paket Wisata Dengan

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Berastagi Satu Paket Wisata Dengan

Seseorang mempertanyakan mengapa kedatangan wisatawan mancanegara menurun ke Berastagi. Dia tidak menunjukan dari mana dia memperoleh data/informasi menurunnya jumlah wisatawan mancanegara ke Berastagi. Sepertinya dia menggunakan logika aneh dengan merujuk ke berita adanya peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Danau Toba.

Ada beberapa masalah soal data sebelum saya membahas pertanyaannya yang menunjukkan ketidakpahamannya pada pola kunjungan wisatawan mancanegara ke tempat-tempat wisata, khususnya di Sumut.

Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Danau Toba tidak mengingatkan angka sebelumnya sehingga kita tidak bisa membayangkannya membludak atau hanya naik dari 5 orang ke 10 orang. Ke dua, Jumlah kunjungan itu bisa dipengaruhi oleh lamanya masa kunjungan sehingga terjadi akumulasi jumlah pengunjung.

Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa Samosir (khususnya Tomok, Tuktuk dan Ambarita), Berastagi, Bukitlawang, dan Medan umumnya satu paket kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan mandiri. Adapun wisatawan yang datang dengan grup wisata biasanya dari Medan ke Berastagi, Samosir, Bukittinggi dan kemudian ke Padang untuk terbang ke Jawa atau Bali.

Wisatawan mandiri biasanya tinggal lama di Bukitlawang dan Samosir sementara di Berastagi dan Bukittinggi wisatawan grup menginap hanya semalam atau dua malam. Mereka menempatkan Berastagi sebagai tempat menyesuaikan diri dengan cuaca tropis setelah penerbangan yang memakan waktu sekitar 12 - 15 jam dari negara mereka.

Sebaliknya Bukittinggi menjadi tempat beristirahat setelah kunjungan sekian hari di Sumut sebelum terbang lagi ke Jawa atau Bali.

Wisatawan mandiri bisa saja tinggal lebih lama di Berastagi karena mereka ingin mendaki gunung berapi (Sibayak), melihat kupu-kupu, memantau berbagai jenis burung di hutan atau menikmati keindahan alam.

Arus wisatawan mancanegara ke Berastagi yang mandiri bisa datang dari Medan, langsung dari Bukitlawang atau dari Samosir. Namun, intinya adalah bahwa Medan, Bukitlawang, Berastagi dan Samosir umumnya satu paket.

Sekarang, mari kita lihat seberapa relevankah mempertanyakan mengapa kunjungan witawan mancanegara menurun ke Berastagi. Kalau memang terjadi penurunan ke Berastagi, itu adalah indikasi penurunan satu paket wisatawan mancanegara Sumut. Sama sekali tidak logis melihat kenaikan kunjungan ke Danau Toba sejalan dengan menurunnya kunjungan ke Berastagi.

Saya katakan tadi di atas kalau Bukitlawang, Berastagi, Samosir, dan Bukittinggi biasanya adalah satu paket, itu artinya sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Berastagi adalah sama dengan mereka yang berkunjung ke Bukitlawang dan Samosir. Hanya saja, lama masa tinggalnya memang Bukitlawang dan Samosir lebih tinggi daripada Berastagi.

Lama masa tinggal sangat dipengaruhi oleh banyaknya kegiatan menarik yang bisa dilakukan. Samosir menawarkan batu-batu berukir terutama di Tomok dan Ambarita, pasar souvenir di Tomok dan Ambarita, Museum perkampungan tradisional di Simanindo, berenang berlama-lama di danau serta mengelilingi Samosir dan melihat para penenun maupun pengukir.

Di Bukitlawang bisa melihat orang utan di waktu mereka makan, berhanyut di Sungai Bahorok, jungle track, memantau burung, pasar souvenir, dan mandi-mandi di sungai.

Sementara Berastagi mengandalkan udara yang sejuk, pasar buah, melihat kupu-kupu, melihat berbagai jenis burung di hutan, mendaki Gunung Sibayak, mengunjungi kampung tradisional Lingga atau Dokan.

Ada satu hal yang membuat Berastagi punya kelebihan dibandingkan Bukitlawang dan Samosir. Seringkali kelompok wisatawan muda mudi dari Singapor dan Hongkong berakhir pekan di Berastagi karena jaraknya yang dekat dari Medan sehingga mereka bisa menggunakan waktu selama Akhir Pekan tetap di Berastagi dan kemudian kembali melakukan kegiatan sehari-hari di negara mereka.

Satu lagi kelebihan Berastagi adalah bahwa para diplomat dan pekerja asing di Medan lebih memilih Berastagi sebagai tempat peristirahatan Akhir Pekan mereka dibandingkan Bukitlawang dan Samosir maupun Parapat.

Adapun kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Utara adalah juga bagian dari minat kunjungan asing ke Indonesia. Sumatera Utara seringkali merupakan sub paket kunjungan ke Indonesia. Adapun minat kunjungan ke Indonesia tidak terlepas dari image Indonesia di mata dunia, promosi-promosi pariwasata di negara-negara yang sering menyumbangkan wisatawan terbanyak ke Indonesia seperti Belanda, Jerman, Australia, Malaysia, dan Singapor.

Tidak kalah pentingnya adalah kesigapan Pemerintah RI dalam melakukan aksi-aksi "jemput bola" sehingga perusahaan-perusahaan wisata di luar negeri tertarik membuat paket-paket kunjungan ke Indonesia.

Seperti pernah diprakarsai oleh Eka Sukma Wisata Medan yang dipimpin oleh Ben Sukma melakukan kerjasama bagus dengan De Boer En Wendel (Belanda) mengadakan paket wisata grup ke Medan, Berastagi, Samosir, Tapanuli Selatan, Bukittinggi, Padang dan kemudian terbang ke Jakarta, Yogyakarta, Bali dan terbang kembali ke Amsterdam setelah transit di Medan.

Kerjasama itu semakin memungkinkan karena didukung oleh kerjasama KLM dengan Garuda Indonesia Airways denganmana atas nama KLM Garuda menerbangkan penumpang dari Amsterdam ke Medan langsung, dari Medan ke Denpasar, dan nantinya kembali dari Denpasar ke Medan dan seterusnya ke Amsterdam.

Ini menunjukkan pentingnya jaringan-jaringan lain selain jaringan langsung dunia pariwisata itu. Misalnya saja pegawai imigrasi yang harus bersih (dari korupsi), ramah, dan lain sebagainya.