Kolom Juara R. Ginting: Compare The Comparable -- Benarkah — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Compare The Comparable -- Benarkah

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Compare The Comparable -- Benarkah

Terbaca oleh saya di sebuah grup facebook, seseorang mengatakan bahwasanya penyebutan Batak berasal dari orang-orang Melayu yang mengindikasikan orang-orang pedalaman yang jorok, kanibal, dan lain sebagainya terangkum dalam satu kata, PRIMITIF. Karo termasuk di dalamnya selain kelompok-kelompok pedalaman lainnya yang sekarang getol disebut Batak.

Benarkah asumsi seperti itu?

Sepertinya sangat banyak orang mempercayai pernyataan itu yang terkesan logis meski tidak satupun diantara mereka pernah melihat bukti autentik kecuali pengulangan dan pengulangan atas pernyataan yang sama. Memang, sebuah kebenaran harus logis, tapi sesuatu hal yang logis belum tentu benar.

Sebelum kedatangan orang-orang Belanda ke Pantai Timur Sumatera, seorang Inggris (John Anderson) mengunjungi Deli termasuk Sunggal pada tahun 1823. Dia melaporkan kunjungannya ke Kampung Ilir (tempat tinggal Sultan Deli waktu itu) dan Sunggal (tempat tinggal Datuk Sunggal) dengan gambaran anak-anak di Sunggal sehari-harinya mengenakan baju dan celana, sementara anak-anak Melayu telanjang bulat. Laporannya ini terbit pada tahun 1826 dalam bentuk buku berjudul Mission to The East Coast of Sumatera in 1823 .

Di dalam buku itu, Anderson juga menggambarkan rumah-rumah di Sunggal jauh lebih besar ukurannya daripada rumah-rumah Melayu dengan arsitektur yang lebih rapi dan lebih canggih. Kedua aspek itu saja (pakaian dan arsitektur) sudah menunjukan Karo lebih canggih daripada Melayu, termasuk bila dibandingkan dengan Sultan Deli yang pada saat itu masih tinggal di Kampung Ilir sebelum dibangunkan Istana Maimun di lokasi sekarang oleh persatuan perkebunan asing di Deli (Deli Maschapij) dan Walikota Medan (Tjong A Fie) yang memegang monopoli peredaran opium, tempat-tempat perjudian, dan pelacuran.

Di belakang hari, orang-orang percaya kalau Melayu lebih maju daripada orang-orang Karo atas 2 alasan di bawah ini.

Pertama, mereka membandingkan orang-orang Karo pedesaan dengan bangsawan Melayu yang menjadi kaya raya dan kosmopolitan sejak Masa Kolonial. Banyak orang mengabaikan betapa miskinnya orang-orang Melayu yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan. Mereka masih tinggal di pemukiman kumuh yang sangat jorok di tepi pantai dengan terlihatnya banyak sampah dan kotoran manusia berserakan di sana sini.

Ke dua, banyak orang terbenam di dalam fantasi teori evolusi yang menyatakan Melayu lebih maju dalam tahapan evolusi dibandingkan suku-suku pedalaman karena mereka memiliki kontak lebih banyak dengan orang luar. Masih banyak orang terpaku pada tahapan evolusi ini yang menggolongkan Batak sebagai Proto Malay (Melayu Tua) dan Melayu Pesisir sebagai Neo Malay (Melayu Muda).

Kalau kita ikuti terus laporan Anderson, dia mengunjungi Sunggal karena perdagangan lada di Deli, yang diekspor ke Malaka, berpusat di Sunggal. Datuk Sunggal, Sibayak Lingga, dan Sibayak Perbesi adalah pemilik kebun lada terluas di Deli. Tak ada satupun milik Sultan Deli maupun Melayu lainnya di daerah itu kecuali Sultan Ahmed di Kelumpang yang masih merupakan wilayah Urung Serbenaman, dipimpin oleh Datuk Sunggal. Itupun karena Sultan Ahmed adalah bebere kesayangan Datuk Sunggal.

Anderson sangat kecewa tidak bisa bertemu Sibayak Lingga saat itu karena Sibayak Lingga sedang menghadiri sebuah ritual kalimbubu nya di Perbesi yang sukut nya adalah Sibayak Perbesi. Datuk Sunggal sendiri mempersilahkan Anderson dan rombongannya tidur di rumah milik bersama Sibayak Lingga dan Sibayak Perbesi di Sunggal.

Bayangkan, begitu mobile-nya Karo yang punya kebun lada di Sunggal sedangkan mereka tinggal nun jauh di sana di Dataran Tinggi Karo dan, bahkan, Sibayak Perbesi tinggl di Perbesi, Kecamatan Tigabinanga sekarang.

Masihkah anda terbenam di dalam fantasi-fantasi logis tapi tak berdasarkan fakta apapun?