Kolom Juara R. Ginting: Dari Kepustakaan Ke Cocokologi -- — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Dari Kepustakaan Ke Cocokologi --

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Dari Kepustakaan Ke Cocokologi --

Missionaris J.H. Neumann pernah menulis di sebuah artikelnya cuplikan mantra dukun Karo, seperti berikut: "Turun ma kamu Dibata Atas, Manaik ma kamu Dibata Teruh, Tumundul ma kamu Dibata Tongah ." Kutipan mantra itu menjadi banyak dikenal oleh kalangan Karo sendiri sejak Hendri Guntur Tarigan menterjemahkan artikel Neumann itu ke dalam Bahasa Indonesia di dalam sebuah kumpulan terjemahan artikel-artikel Belanda dengan judul Percikan Budaya Karo.

Sebagian orang mengaitkannya dengan konsep Batak Sitolu Sada: Debata Banua Ginjang, Debata Banua Tonga, dan Debata Banua Toru.

Mereka juga mengaitkannya dengan Dalihan Natolu (dongan tubu, boru, dan hula-hula ) dan Tri Tunggal di dalam Kristen (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Bahkan ada Runggun GBKP bernama Sitelu Sada yang mengingatkan Tri Tunggal di dalam Kristen secara eksplisit dan Dibata Sitelu secara implisit.

Herannya, selama bertahun-tahun saya melakukan penelitian mengenai perdukunan dan ritual-ritual Karo, tidak sekalipun saya mendengar pembuka mantra seperti itu. Saya berkesimpulan, walaupun saya tidak menuduh Neumann mengada-ada dan mengakui memang dia melaporkan apa adanya, tapi pada prakteknya tidak seheboh efek tulisan itu di kalangan akademik dan kemudian turun ke publik umum.

Justru, menurut hemat saya, tanggapan-tanggap kalangan akademik itu sendiri yang membuatnya bergaung seolah-olah itu penting sekali di tengah-tengah masyarakat Karo. Padahal, kalangan dukun Karo sendiri kebanyakan tidak mengenalnya. Mereka lebih banyak mengumandangkan Mangmang Persentabin yang kira-kira seperti ini bunyinya (sambil mempersembahkan Belo Siwah Sepulu Sa):

Sentabi, Nin i

Seribu kali aku ersentabi nembah sungkur

Rikut jari-jariku tanku sepuluh ras jari-jari naheku dua puluh, Nini

Kam me kari sukutna dahinta enda, Nini

Ula kal kam ngelangke ngeliwer

Kugelari gia gelarndu sekalak-sekalak

Kam Nini si bas teruh sampuren ena

Gelarndu Beru Dayang Bagas Sampuren, Nini

Dan seterusnya ...........

Ada pula kalangan akademik yang mengkaji dengan membandingkannya ke 3 tingkatan gambar-gambar di sisi luar Gendang Dongson (Vietnam), yang terbuat dari tembaga, yang ditafsir sebagai melukiskan Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah.

Tapi, bagaimanapun juga, tak satupun pernah mencoba melihatnya sejauh mana subjek yang mereka kaji itu dikenal oleh masyarakatnya sendiri selain mengenalinya dari dunia tulis menulis. Awalnya beredar sebagai percakapan kalangan akademik dan kemudian menurun ke publik umum.

Seperti halnya sebuah peristiwa ketika saya baru saja kembali setelah menyelesaikan Studi S2 di Belanda (Universitas Leiden) pada tahun 1994. Saat saya bermain sepakbola di sudut Jl Universitas dan Jl. dr. Sofyan (Kampus USU) dengan mahasiswa-mahasiswa saya, saya melihat seorang ibu muda menggendong bayi mengumpulkan cangkir-cangkir minuman mineral dari plastik. Saya sangat ingin tahu dia itu dari suku apa karena, saat saya tinggalkan Medan pada tahun 1992, belum ada pemulung seperti itu di Medan.

"Kami orang Batak Toba, ito ," katanya menjawab pertanyaanku.

Alangkah terkejutnya aku. Mengapa?

Tidak kuduga jawaban seperti itu datang dari seorang pemulung. Dulunya, istilah Batak Toba hanya beredar di buku-buku dan dari mulut ke mulut kalangan akademik. Sebagai seseorang kelahiran Medan (1963) dan tumbuh besar di Medan hingga menyelesaikan Studi S1 juga Medan (1986) saya dulunya hanya mendengar pengakuan mereka sebagai Orang Batak untuk mengatakan mereka bukan Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Melayu, Nias maupun Jawa.

Itulah satu sisi bias dan rancu dari dunia kepustakaan tanpa berpikir kritis. Padahal, teori apapun harus diangkat dari praktek dan perlu terus menerus diuji ulang. Bukan seperti kejadian sekarang teori yang tidak pernah diuji kebenarannya diturunkan ke dunia praktek sesuai dengan kepentingan atau menunjukkan dirinya keren.

KBB (Karo Bukan Batak) adalah sebuah gerakan media sosial yang ingin menguji kepustakaan lama, terutama yang dari Jaman Kolonial, yang menyatakan Karo adalah bagian Batak. Pengujian ini dilakukan di tempat terbuka dan bersifat inklusif, tidak di dunia kampus yang bersifat tertutup dan eksklusif.