Kolom Juara R. Ginting: Dari Tutung-tutung Ke — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Dari Tutung-tutung Ke

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Dari Tutung-tutung Ke

Kalau dilihat di foto-foto Jaman Kolonial, sepertinya orang-orang yang menjual daging babi di pasarlah yang juga menjual daging babi yang sekarang kita kenal dengan nama Babi Panggang Karo atau disingkat BPK. Bisa jadi, penjual daging itu punya asisten yang memanggang daging di tempat dia menjual daging babi mentah. Bisa jadi juga, ada seorang lain yang menjalankan usahanya tersendiri sebagai penjual BPK di samping si penjual daging mentah.

Satu kemungkinan lain, seorang atau beberapa pembeli bisa memanggang daging beliannya di tempat yang disediakan si penjual daging.

Ketiga kemungkinan itu tidak bisa dipastikan melalui pengamatan terhadap foto-foto. Hanya informan-informan yang pernah mengalami suasana itu, baik sebagai pembeli ataupun penjual, yang bisa menjelaskannya atau seseorang yang pernah mendengar dari orangtua atau kakeknya. https://www.youtube.com/watch?v=sFb-yp2QQYM

Belakangan, kita lihat adanya warung makan khusus BPK tumbuh di pasar-pasar seperti di Pasar Kabanjahe, Pasar Berastagi, dan Pasar Pancurbatu. Seingatku, Babi Panggang Gung Rahu adalah salah satu rumah makan tertua yang membuka usahanya di sebuah perhentian kendaraan, yaitu Bandar Baru.

Sekarang ini, di mana-mana bisa kita temukan warung makan BPK. Dulunya, hanya disebut Babi Panggang atau Panggang saja untuk menyatakan rumah makan yang menyediakan babi panggang sebagai lauknya.

"Man panggang otah ," adalah sebuah ajakan untuk makan di warung makan yang menyediakan lauk babi panggang.

Dulu, khas rumah makan babi panggang orang Karo menyediakan makanan utama nasi merah, daging babi yang sudah dipanggang bersama bagian dalamnya (usus, kidu-kidu, hati, limpa, dan jantung), tulang sup, dan cincang-cincang (daun ubi dicampur jantung pisang dan umbut diiris bersama daging babi yang berlemak).

Dulu, seberapa banyak pun minta tambah nasi tidak ada bayaran tambahan. Nasinya tetap beras merah.

Ketika saya mahasiswa di Medan, sekitar tahun 1980an, mulai terdengar istilah Babi Panggang Karo atau BPK. Saat itu, Jenderal M. Jusuf diangkat oleh Presiden Suharto sebagai Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Jenderal ini sangat populer di kalangan masyarakat sampai "mamak-mamak" pun sangat menyenanginya saat dia tampil di televisi. Sebagaimana Wikipedia menggambarkannya, "M. Jusuf dikenal luas sebagai seorang yang berdisiplin tinggi dan tidak dapat dibengkokkan untuk melanggar prinsip."

Kebanyakan istilah Babi Panggang Karo atau BPK didengungkan oleh orang-orang Batak, bukan oleh orang-orang Karo. Ketika saya kembali ke Indonesia dari Belanda pada tahun 1992 untuk sebuah penelitian lapangan, saya mulai melihat semarak warung-warung dengan nama BPK. https://www.youtube.com/watch?v=7hQGHmqOz9E

Menurut hemat saya, istilah BPK digunakan oleh orang-orang Batak untuk membedakannya dengan Rumah Makan Batak. Dulu memang bisa kita temukan rumah-rumah makan yang diberi nama Rumah Makan Batak yang mengindikasi menyediakan daging babi goreng, saksang , dan daun ubi tumbuk. Tidak ada pengusaha rumah makan Batak yang orang Karo maupun Simalungun, Pakpak apalagi Mandailing. Mereka berasal dari Suku Batak yang di dalam literatur sering ditulis Batak Toba.

Saksang biasa juga kita temukan di kede-kede tuak yang menyebutnya sebagai tambul saat minum tuak. Saksang kede tuak ini biasanya terbuat dari daging anjing yang biasa juga disebut B1 sementara orang-orang Batak memperhalus sebutan babi dengan B2.

Sekarang ini, rumah makan Batak terdesak oleh BPK yang menjamur di mana-mana bahkan merambah di berbagai kota besar di Indonesia. Termasuk kede tuak Batak semakin terdesak olek cafe tuak Karo.

Dulu, orang-orang Karo lebih meminum nira (lau pola ) daripada tuak. Tapi sekarang, orang-orang Karo banyak yang meminum tuak. Apalagi sejak penyanyi Ermawati br Karo membuka kede tuak bercorak cafe yang menyediakan musik kibot, penyanyi, dan waitress perempuan.

Kembali ke istilah babi panggang. Sepertinya orang-orang Karo meminjam istilah babi panggang yang digunakan oleh orang-orang Tionghoa di Medan. Sebelumnya, orang-orang Karo menyebut tutung-tutung untuk yang sekarang disebut panggang .

"Ota kita nutung-nutung ," biasa dulu digunakan yang sekarang diganti dengan "ota kita manggang-manggang ". https://www.youtube.com/watch?v=9eP4mwxCHPo