Kolom Juara R. Ginting: Kesalahan Perspektif Negeri Bayangan --
Sewaktu melihat lukisan ini, langsung terasa ada yang janggal. Ada 3 atap rumah adat yang terlihat. Mari kita perhatikan atap rumah yang paling penuh terlihat (2 rumah lainnya hanya terlihat sebagian atapnya) (lihat foto di atas). Kalau bubungen (bubungan) adalah sebuah garis lurus, maka ayo-ayo rumah (bentuk segi 3 di puncak atap) tidak akan terlihat keduanya. Dari posisi pelukis, mestinya hanya ayo-ayo sebelah kiri kita yang terlihat bukan yang kanan apalagi keduanya seperti terlihat pada lukisan itu.
Kalau kita lanjut menyeksamai lukisan itu, maka akan terlihat banyak kejanggalan lain, tapi saya membatasi diri hanya mendiskusikani kesalahan perspektif yang satu itu saja.
Begitulah sebuah kesalahan perspektif yang, bila kita tidak punya pengalaman mengamati dan menyeksamai rumah-rumah adat Karo, akan terlihat wajar-wajar saja dan menjadikannya model atau percontohan rumah adat atau perkampungan Karo. Padahal, faktanya tidak begitu, atau dengan kata lain, lukisan itu salah; khususnya kesalahan pada perspektif.
Demikian juga banyak orang menganggap rumah adat Karo sama saja dengan rumah adat Batak. Dalam melawan Gerakan KBB (Karo Bukan Batak) di media sosial, banyak orang mengatakan kalau rumah-rumah adat Batak sama saja di mana-mana atau setidaknya mirip.
"Rumah adat Karo dan rumah adat Toba jelas mirip sekali," kata mereka untuk meyakinkan orang-orang adanya asal usul yang sama antara orang-orang Karo dan orang-orang Toba kata mereka penganut Batak adalah sebuah suku atau setidaknya saling mempengaruhi karena bertetangga kata para penganut Batak sebagai sebuah rumpun. Baru setelah saya dengan sabar memperlihatkan perbedaan mencolok antara rumah-rumah Batak dan rumah-rumah Karo mulai banyak orang yang tersadar (lihat di bawah).
Perbedaan paling mencolok adalah pada bentuk atap dimana bubungan Batak melengkung ke atas dan, bila punya pengetahuan mendalam mengenai arsitektur Batak dan melihatnya secara seksama, satu puncak lengkungan lebih tinggi dari puncak lengkungan yang lain untuk menandakan di bawahnya posisi jabu bona . Beda dengan Karo yang bubungannya memperlihatkan garis datar dan kedua ujungnya disimpul dengan patung kepala kerbau. Tanduk kepala kerbau yang berada di ujung jahe berasal dari kerbau betina sementara yang berada di ujung julu berasal dari kerbau jantan.
Perbedaan semakin mencolok bila kita amati bagaimana tiang-tiangnya dikonstruksi. Rumah-rumah adat Batak hanya mengenal satu bentuk konstruksi yang bernama rassang . Sementara rumah-rumah adat Karo memiliki 3 jenis konstruksi yaitu pasuk, sangka manuk , dan sendi . Ketiganya sangat berbeda satu sama lain (lihat di bawah).
Pasuk dibangun dengan memacakkan tiang-tiang (binangun ) ke dalam tanah dan kemudian menghubungkannya satu sama lain dengan beberapa lat yang sekaligus menjadi bantalan lantai. Sangka manuk menggunakan fundasi kayu keras (pengkih atau juhar ) dan di atas disusun secara horizontal bertingkat balok-balok kayu seperti membuat sangkar burung dari batang pinpin (sanggar ). Tiang-tiangnya dipacak ke susunan balok bertingkat itu setelah dilobangi.
Sendi tiang-tiangnya dibuat berdiri di atas fundasi-fundasi dari batu apung yang ditanam ke dalam tanah. Tiang-tiangnya kemudian dihubungkan satu sama lain dengan beberapa lat secara bertingkat (disebut permayang atau sendi ).
Penjelasan di atas tidak akan dibaca secara serius oleh pembenci KBB, tapi sudah cukup menegaskan perbedaan antara Karo dan Batak dimana Karo memiliki 3 jenis konstruksi tiang secara berbeda sedangkan Batak hanya satu jenis konstruksi tiang. Selain itu, tulisan saya telah memancing orang-orang, baik pendukung KBB maupun pembenci KBB, untuk mengamatinya secara serius. Setelah itu, suara-suara yang mengatakan "rumah-rumah adat semua Batak sama saja" mulai senyap dari media sosial.
Begitulah, juga terjadi dalam dunia tulis menulis (kepustakaan) yang terus menerus mengulangi kesalahan yang sama tanpa sekalipun terdorong untuk membacanya secara kritis. Bahkan ada yang menganggap segalanya yang sudah ditulis apalagi diterbitkan dalam bentuk buku terutama yang ditulis oleh orang-orang berkulit putih dianggap sebagai patokan kebenaran.
Di bawah ini saya terakan 2 tanggapan pembaca saat naskah awal tulisan ini saya tampilkan di dinding facebook saya.
Joy Harlim Nonink Sinuhaji : Masih terlalu banyak orang Karo yang terpasung oleh literatur-literatur yang sudah kuno dan usang ...!