Kolom Juara R. Ginting: Konversi Peristiwa Hasto Kristo Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Konversi Peristiwa Hasto Kristo Dan

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Konversi Peristiwa Hasto Kristo Dan

Kiranya semua media mencatat dan melaporkan dengan baik PERISTIWA pemberian amnesti kepada Hasto Kristo dan abolisi kepada Tom Lembong karena, sampai saat ini, belum ada bantahan terhadap berita-berita media itu. Bisa dikatakan, rakyat disuguhi DATA jujur walaupun bisa saja sebagian pengamat dari jauh, seperti mereka yang berada di luar negeri, masih membutuhkan data lebih lengkap untuk mengangkatnya menjadi FAKTA.

Di Indonesia mulai berseliweran analisis dan tafsir untuk menjelaskan FAKTA apa yang kita dapat atas PERISTIWA pemberian amnesti dan abolisi itu atas dasar DATA yang disampaikan/ dilaporkan kepada masyarakat luas lewat berbagai jenis media.

Ada yang menafsirkannya sebagai tanda lemahnya atau semakin lemahnya pengaruh mantan Presiden Jokowi terhadap Prabowo. Tafsir seperti ini didasarkan pada DUGAAN bahwa vonis pengadilan terhadap Hasto dan Tom Lembong mendapat pengaruh dari Jokowi. Dugaan itu tentu saja mudah dipercayai oleh masyarakat luas karena dugaan yang sama sebelumnya telah muncul atas keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap syarat usia Calon Wakil Presiden yang melibatkan putra Jokowi, Gibran.

Ada juga yang mengatakan kalau ini adalah bagian strategi Prabowo sendiri dalam menjaga keseimbangan kekuasaannya sehubungan dengan kuatnya pengaruh PDIP di DPR dan pengaruh Anies Baswedan yang dekat dengan Tom Lembong. Dugaan ini juga tentunya masih sesuai dengan dugaan sebelumnya di atas yang menandakan semakin lemahnya pengaruh Jokowi terhadap Prabowo.

Sebagaimana dikatakan oleh pengamat politik Alifurrahman S Asyari, keputusan itu disambut gembira oleh partai-partai nasionalis seperti Nasdem, Golkar, PD, dan Gerindra. Kegembiraan partai-partai nasionalis itu menurut Alifurrahman karena akan mencegah meningkatnya jumlah pemilih PSI pada Pemilu yang akan datang. Meningkatnya pemilih PSI akan menyedot para pemilih partai-partai nasionalis itu.

Ada juga yang tidak begitu tertarik mengkonversi peristiwa itu menjadi fakta, tapi melihat bagaimana PDIP menyikapi keputusan itu untuk menjaga keutuhan PDIP di masa depan alias tujuan jangka panjang.

Sebagaimana disampai oleh Kata Kita melalui sebuah artikel, Megawati langsung menyuarakan sesuatu yang menganjurkan PDIP tidak membuat goncangan terhadap kekuasaan Prabowo meski tetap berada di luar kabinet. Megawati yakin, kata penulis, kekuasaan Prabowo akan terjungkal sendiri atas berbagai kebocoran keuangan negara.

Saya jadi ingat strategi sepakbola yang saya sampaikan kepada teman-teman sewaktu kami mengikuti turnamen antar kampung di Kecamatan Medan Baru (1980). Saya sarankan agar teman-teman tidak terlalu memburu bola sehingga kelelahan sendiri.

"Bila lawan menguasai bola, cukup berdiri di depannya tanpa melakukan upaya merebut bola dari kaki lawan," saranku pada teman-teman saat itu.

Saran itu didasarkan pada asumsi ini turnamen tingkat antar kampung dan para pemainnya juga belum menguasai banyak taktik dalam sepakbola. Mereka hanya mengandalkan skill pribadi sementara teman-teman saya banyak yang preman Titirante yang setiap malam begadang dan minum minuman keras.

Benar saja, para pemain lawan yang memiliki skill pribadi setingkat dua tingkat di atas pemain-pemain kami jadi kebingungan ketika teman-teman melaksanakan seperti yang saya sarankan. Ada yang berusaha melakukan berbagai gerakan mengecoh tapi teman-teman tetap diam dan akhirnya pemain lawan terjungkal sendiri atas gerakannya yang terlalu sibuk mengolah bola.

Strategi yang mirip pernah saya sampaikan pada seorang teman perempuan yang sangat reaktif di dalam perdebatan-perdebatan media sosial. Saya katakan, "jangan hidupkan orang mati." Banyak orang yang sudah "terkapar" di dalam perdebatan merasa mendapat nafas setelah lawan debatnya berkicau lagi. Sebabnya dia terkapar adalah karena terpeleset oleh ucapannya sendiri.

Memang telah terjadi penurunan drastis kualitas politisi Indonesia akhir-akhir ini yang cenderung mengandalkan kemampuan menghasut rakyat dengan kata-kata tapi menjadi "pandai" berkata-kata hanya untuk membantah dan menghantam lawan politiknya. Bukannya dalam hal membuat strategi pembangunan bangsa dan negara untuk jangka pendek maupun panjang.

Gerakan "diam" yang dilancarkan oleh PDIP, sebagaimana didugakan oleh artikel di Kata Kita itu, akan membuat para lawan gelagapan dan bisa menjaga wibawa PDIP sendiri untuk tidak menampakkan kelemahan para anggotanya.

Tapi, bagaimanapun juga, saya sebenarnya hanya tertarik pada penjelasan kepada khalayak ramai apa itu yang dinamakan FAKTA. Sebuah peristiwa atau serangkaian peristiwa ditetap sebagai sebuah FAKTA setelah melalui proses pencatatan/ perekaman PERISTIWA sebagai DATA. Data-data kemudian dianalisis atau ditafsir untuk ditetapkan sebagai FAKTA. Teori ilmiah harus dibangun berdasarkan FAKTA meskipun penetapan FAKTA itu sendiri sudah diproses dengan teori atau beberapa teori yang sudah ada sebelumnya.

Bagaimana dengan data-data pribadi warga negara Indonesia yang disumbangkan ke Amerika?