Kolom Juara R. Ginting: Melatih Seni Adalah Sebuah Seni
Beberapa tahun silam, dalam persiapan tampil di Tongtong Fair (Den Haag), saya posisikan seorang perempuan sebagai penari utama. Dia berkata, "aku sama sekali tidak pernah menari." Jawabku, "aku tahu kam tidak pernah menari, tapi aku yakin kam sangat piawai menari."
Dia dan teman-teman lainnya tercengang bagaimana saya berani berkata begitu.
Setelah latihan, dia dan teman-teman lainnya mulai percaya kalau dia memang piawai menari. Hingga pada saat penampilan kami di Tongtong Fair dialah yang menjadi bintang penampilan kami.
Beberapa tahun kemudian, di Medan, seorang mahasiswi mengantarkan kakaknya latihan menari di Sanggar Seni Sirulo (Medan). Setelah beberapa kali latihan berlangsung, saya memintanya menari sendirian.
Dia menolak dan mengatakan tidak pernah sama sekali menari. Setelah beberapa menit membujuknya untuk mencoba, dia bangkit dari duduknya di lantai dan mencoba mengikuti instruksiku.
"Kamu sekarang adalah seorang Putri Khayangan yang sedang berjalan dari satu gumpalan awan ke gumpalan awan yang lain. Hati-hati jangan terpeleset jatuh ke bumi. Awas!" Kataku seolah sedang khawatir dia akan tergelincir.
Tak berapa lama, dia mulai menari seperti kesurupan. Sejak itu, dia menjadi bintang penari kami dalam menarikan Peselukken (tari kesurupan).
Kali berikutnya, saya kembali ke Belanda. Ada pesanan menari di Museum Etnologi Leiden. Saya merencanakan penampilan Green Princess (Putri Hijau), tapi kami kebetulan tidak punya pemain ketteng-ketteng. Kebetulan adik teman kami akan datang dari Medan. Saya minta dia dilatih bermain ketteng-ketteng di Sanggar Seni Sirulo (Medan).
Maka dialah yang menabuh ketteng-ketteng di penampilan itu.
Usai penampilan, saya katakan pada adik itu, sepulangndu ke Medan, kam segeralah kembali ke sanggar kita untuk berlatih menari. Aku tahu kam sangat piawai menari. Jawaban seperti sebelum-sebelumnya, "aku tidak pernah menari sama sekali, bang."
Singkat cerita, dia sendiri akhirnya tersadar kalau dia sangat piawai menari.
Kemarin , kami ke Utrecht untuk berlatih musik tradisional Karo. Saya minta seseorang menyanyikan Doah Didong. Tau apa jawabannya?
"Bagaimana dia lagunya?"
Saya nyanyikan sedikit. Dia tidak serius mendengar suara saya. Katanya dia mau mendengar dari youtube. Hingga beberapa lama mencari dia tidak menemukannya dan menyerah untuk mendengar nyanyian saya.
"Oh ya, saya ingat. Sewaktu kecil di kampung saya sering mendengar itu," katanya.
Setelah mencoba dua kali dan mendapat koreksi dari saya, video di bawah adalah hasilnya untuk mencoba ketigakalinya. Masih banyak yang perlu saya koreksi/ poles dan dia bisa berlatih sendiri di rumah dengan bimbingan saya lewat WA untuk nantinya ditampilkan sebagai sebuah seni kelas dunia.
Begitulah cara saya "mengangkat batang terendam" kata Orang Melayu atau "peratah-ratahi bulung si enggo melus" kata Orang Karo. https://www.youtube.com/watch?v=RQaCX3V0rRE