Kolom Juara R. Ginting: Memahami Ertutur Sebagai Sebuah Sistim — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Memahami Ertutur Sebagai Sebuah Sistim

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Memahami Ertutur Sebagai Sebuah Sistim

"Di rumah ini kam kalimbubu di rumahndu nanti aku pula yang menjadi kalimbubu ," begitulah sering diambil kesimpulan ketika dua orang saling berkenalan secara Karo. Apa artinya itu? Orang-orang yang mengucapkan kalimat itupun sering tidak menyadari dengan pikiran jernih apa makna kesimpulan seperti itu. Dari pengalaman saya bertahun-tahun mengadakan penelitian mengenai rumah Karo yang sekarang biasa disebut rumah adat, kalau saya disimpulkan sebagai kalimbubu di sebuah rumah maka saya persisnya menjadi tamu Jabu Lepar Bena Kayu.

Kalau saya disimpulkan sebagai anak beru dari rumah itu maka saya langsung dikirim ke Jabu Ujung Kayu.

"Di sana jabundu ," kata mereka sambil memanggil orang yang menempati Jabu Ujung Kayu untuk menjemput saya ke tempat ertutur , yaitu Jabu Bena Kayu,

Kalau disimpulkan saya adalah senina maka saya ditempatkan di Jabu Lapar Bena Kayu. Kalau ternyata saya adalah sembuyak rumah itu maka saya disuruh tetap di Jabu Bena Kayu.

Jangan katakan saya berteori doang, itu saya alami bertahun-tahun. Pengalaman dari penelitian lapangan ini menjadi sangat berarti bagi saya setelah membaca uraian bapak Antropologi Strukturalisme (Claude Levi-Strauss) mengenai House Society di dalam bukunya The Ways of The Masks (1982).

Uraian Levi-Strauss sesuai dengan pengalaman saya di atas yang mengasumsikan bahwa Masyarakat Karo adalah sebuah rumah. Semua orang yang punya merga Karo diasumsikan berhubungan satu sama lain sebagai anggota sebuah rumah. Ertutur , saling memperkenalkan merga/ beru dan bebere , adalah untuk mengetahui kam di jabu mana dan saya di jabu mana pula.

Begitulah Levi-Strauss kira-kira menjelaskan sebuah struktur sosial yang dinamainya House Society atau, "sebagaimana mengalir dari pena sejarawan Abad Pertengahan dalam menggambarkan Noble House, itulah House Society itu," katanya.

Saya sudah banyak melihat di Eropah contoh-contoh Noble House yang masih banyak tertinggal. Di Belanda, banyak saya lihat di sekitar Kota Bussum, di mana rumah-rumah orang kaya model jaman dulu masing-masing punya nama. Namanya terpampang di bagian luar dinding rumah itu sebelah depan.

Lebih konkritnya, sebagian dari kita mungkin masih ingat adanya rumah model Belanda di jalan menuju Gundaling (Berastagi) yang bernama De Merel.

"Masing-masing Nobel House (rumah bangsawan) itu punya nama," kata Levi-Strauss membuat saya teringat kalau saya adalah pengulu dari sebuah rumah yang bernama Kurung Manik di Lau Riman, dekat Siosar.

"I am noble ," bissikku dalam hati. https://www.youtube.com/watch?v=-8aTXFg5CC4