Kolom Juara R. Ginting: Meneliti Budaya Sendiri -- Melanjutkan
Dulu, masih sering muncul di media sosial pernyataan bahwa motif bernama tulak paku di rumah adat Karo mengkonfirmasi tidak hadirnya "paku" di konstruksi rumah ini. Kosa kata tulak diartikan "tolak" dan kosa kata paku adalah "paku" dalam Bahasa Indonesia yang terbuat dari besi.
Pernyataan seperti ini semakin hilang sejak saya menjelaskan kalau istilah tulak paku maksudnya adalah motif pakis (tulak = motif; paku = tanaman paku atau pakis).
Saya jelaskan lebih lanjut kalau paku yang terbuat dari besi itu dalam Bahasa Karo bukan paku, tapi labang . Seperti halnya Rumah Labang di Bintang Meriah (Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Karo), adalah rumah adat pertama di Bintang Meriah menggunakan paku dari besi.
Lagipula, kalau paku yang dimaksud adalah sebutan teknis sementara bahannya bisa dari apa saja, sejak awal rumah adat Karo telah menggunakannya. Sebuah paku terbuat dari batang enau (pangguh ) dibentuk menjadi paku (disebut pantuk ), untuk menstabilkan balok-balok besar di puncak tiang-tiang utama (binangun ), (tekang, buaten dan tula-tula ) setelah titik-titik sambungan ketiga balok itu dilobangi dengan pahat.
Dengan begitu, konstruksi rumah adat Karo tidak pernah menolak paku.
Adapun tanaman paku sebagai motif merujuk khususnya ke paku lompat pitu , salah satu bahan pangir selansam . Tanaman ini relevan karena dia berkembang biak lewat daunnya. Setiap kali ujung daunnya menukik menyentuh tanah maka tumbuh anaknya.
Satu hal lagi yang perlu diperhitungkan adalah bahwa penjelasan mengenai tulak paku sebagai konfirmasi menolak menggunakan paku besi terlalu didorong oleh kebutuhan sensasional mengenai Karo. Seolah-olah arsitektur tradisional Karo adalah paling hebat di dunia. Padahal, hampir semua bangunan tradisional di Nusantara tidak menggunakan paku berbahan besi.
Terlebih lagi, sangat banyak ditemukan bangunan tradisional di negara-negara lain di dunia yang tidak menggunakan paku besi. Bukan hanya suku-suku di luar Eropah, termasuk bangunan-bangunan lama di Eropah tidak menggunakan paku besi.
Mendalami arti kata seperti di atas disebut penelitian semantik. Penelitian seperti ini akan sangat terbantu oleh pengenalan kita sebelumnya terhadap arsitektur secara umum di berbagai tempat di dunia sehingga kita menyadari kalau kebudayaan kita bukan satu-satunya di dunia.
Demikian pula Gerakan KBB (Karo Bukan Batak) adalah sebuah upaya menghentikan anggapan yang salah di literatur tentang Karo untuk tidak beranak pinak tanpa pernah sekalipun mendapat pengujian ilmiah.