Kolom Juara R. Ginting: Mengapa Orang Karo Menyebutnya Lau
Saya pernah menulis hal ini sebelumnya dengan sebuah argumen bahwa Karo pernah menggunakan kosa kata "bah" untuk menyebut sungai, seperti Simalungun, sebelum menggunakan kosa kata "lau". Kosa kata "bah" tercermin dalam sejenis awalan "ba" atau "be" di dalam masing-masing nama sungai. Babura, misalnya, berasal dari Bah Burah dan Betimus dari Bah Timus.
Asumsi itu diperkuat oleh penyebutan warga lokal terhadap sungai-sungai itu tanpa menyertakan ba atu be . Sungai Bekancan disebut warga lokal Lau Kancan dan Sungai Betimus disebut Lau Timus.
Menariknya lagi, ada beberapa sungai yang namanya punya pengertian sama tapi menggunakan kosa kata berbeda. Bakeri berarti Sungai Keri yang artinya sungai yang airnya sudah keri (habis). Belumai berasal dari Bah Lumai yang artinya sungai yang airnya sudah lumai (kering). Bekerah berasal dari Bah Kerah berarti sungai yang airnya sudah kerah (kering).
Di Dataran Tinggi Karo tidak banyak terlihat sisa-sisa nama "bah" selain Bekerah, Belulus, dan Bedimbo.
Di Karo Hilir ada Bahorok, Bahrangrang (Belarang), Begerpang, selain Babura, Bekeri, Bekancan, Belume, dan beberapa lainnya.
Tulisan ini mengasumsikan adanya perubahan penggunaan kata oleh suku-suku tertentu sehingga Karo (lau ) menjadi sama dengan Alas (lawe ), Pakpak (lae ), Singkil (lae ), dan Gayo (lawe ). Berbeda dengan Simalungun (bah ), Batak (aek ), Mandailing (batang ), dan Melayu (sungai ).
Bagaimana pula kita menanggapi Teori Cocokologi yang mengatakan nama kampung Bekerah di Dataran Tinggi Karo berasal dari nama kampung Bakkara di Tano Toba sehingga dikatakan Bekerah didirikan oleh keturunan Sisingamangaraja yang berasal dari Bakkara?
Teori yang indah kedengaran kalau kita tidak tahu apa-apa mengenai masyarakat kita sendiri. Itulah awal dari semua bentuk penjajahan. Merdekalah sejak berpikir. https://www.youtube.com/watch?v=xpnbIPaWkUc