Kolom Juara R. Ginting: Menghargai Kelebihan Budaya Sendiri --
Di sebuah grup fb Karo, seseorang memosting video 2 orang ibu menangguk (ndurung ) di tepi sebuah danau yang ditumbuhi oleh rerumputan air. Saya senang melihat postingan seperti ini karena mengetengahkan sesuatu yang istimewa dari Budaya Karo.
Mengapa menangguk adalah sesuatu yang istimewa?
Menangguk memang bukan hanya dilakukan oleh orang-orang Karo. Banyak suku lain di Indonesia yang memiliki tradisi menangguk. Tapi, selain pelaksanaannya sudah tidak sesering dulu lagi, suku-suku lain biasanya menangguk ikan cenderung ukuran besar. https://www.youtube.com/watch?v=sthZFxlQ5yI
Lain halnya dengan tradisi menangguk pada Suku Karo, kebanyakan diarahkan untuk menangkap ikan-ikan kecil yang suka bersembunyi di tepi sungai arus kecil, tepi danau, tepi rawa-rawa dan tepi sawah.
Selain itu, Suku Karo memiliki tradisi menggulai dan memakan berbagai jenis serangga air yang semua jenis dirangkum oleh nama salah satu jenis serangga itu, yaitu cibet . Cibet ini biasanya ditangkap dengan tangguk (durung ).
Seseorang yang bekerja di LIPI pernah berkata pada saya secara pribadi bahwa dia menemukan data kalau Karo adalah pemakan paling banyak jenis serangga di seluruh Indonesia.
"Bagaimana bisa?" tanyanya.
"Saya baru tahu tentang data itu. Kemungkinan besar tradisi menangguk cibet inilah yang membuatnya menjadi pemakan jenis serangga terbanyak selain mereka juga memakan belalang, capung, ulat daun pisang, berbagai jenis kidu , dan banyak lainnya lagi," kataku.
Sepertinya Karo adalah satu-satunya suku bangsa yang menangkap cibet dan memasaknya sebagai salah satu makanan lezat dan terhormat. https://www.youtube.com/watch?v=EGXqSIV1VEU
Begitupun, tradisi menangguk termasuk menangguk ikan (ukuran kecil maupun besar) masih sangat penting di kalangan Suku Karo. Orang-orang Karo melakukan tradisi menangguk ikan-ikan kecil di sungai aliran kecil di Musim Kemarau, ketika cuaca sangat menggerahkan sehingga mereka tidak bisa melakukan aktivitas pertanian. Mencari ikan-ikan kecil di sungai aliran kecil adalah salah satu cara membebaskan diri dari kegerahan.
Di Karo Gugung ada pula tradisi Mburtas Tambak, dimana kolam komunal atau Tambak Kuta dikeringkan dan warga kampung dipersilahkan menangkap ikan di sana.
Kalau kam amati suku-suku lain yang sekarang ini bisa dilakukan melalui jendela media sosial (youtube, facebook, dan TikTok), kam akan menyadari betapa istimewanya tradisi kita yang satu ini, ndurung . Apalagi terlihat ibu-ibu yang mengenakan kain penutup kepala (tudung ) dan melilitkan kain panjang atau sarung di pinggangnya. Terkesan tradisional.
Foto-foto dan video-video ndurung adalah salah satu memperlihatkan kepada dunia betapa manisnya Suku Karo. https://www.youtube.com/watch?v=h0rTlT1Z3KI&t=13s