Kolom Juara R. Ginting: Menikmati Khayalan -- Takut Pada — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Menikmati Khayalan -- Takut Pada

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Menikmati Khayalan -- Takut Pada

Baru saja saya mau mengangkat Kolom Seriulina Karosekali mengenai Sayuran Paku. Langsung saja saya kepingin menulis bagaimana para generasi muda Karo memahami istilah TULAK PAKU. Sering kali, para generasi muda Karo menghebat-hebatkan arsitektur tradisional Karo yang tidak menggunakan paku dan itu tercemin, kata mereka, dalam ornamen bernama tulak paku .

Mereka mengartikan tulak paku menolak penggunaan paku dalam konstruksinya.

Saya pernah membantah argumen seperti itu dengan mengatakan paku yang dimaksud dalam ornamen tulak paku itu adalah tumbuhan paku yang disebut juga pakis dalam Bahasa Indonesia.

Lalu saya tambahkan, khusus untuk ornamen di rumah adat Karo, paku yang dimaksud adalah Paku Lompat Pitu yang bisa berkembang biak melalui daunnya. Ketika daunnya tumbuh memanjang dan kemudian ujungnya menukik mencium tanah, dari sana tumbuh tunas baru.

Mengapa dikatakan lompat pitu dan mengapa bukan lompat enem, waluh, siwah atau "lima puluh kurang dua" saya tidak tahu.

Saya hanya pernah menduganya punya korelasi dengan 7 generasi keturunan MATRILINEAL (bukan patilineal): 1. Puang nu puang, 2. Puang Kalimbubu, 3. Kalimbubu, 4. Senina (bukan sembuyak yang patrilineal), 5. Anak beru, 6. Anak beru menteri, 7. Anak Beru Minteri.

Paku Lompat Pitu juga adalah salah satu bahan ramuan pangir (ritual keramas). Motif paku juga kita temukan pada Padung yang terbuat dari perak. Di perhiasan telinga ini motif paku terutama merujuk ke pucuk atau tunasnya paku yang dijadikan orang-orang Karo sebagai sayuran.

Mengenai arsitekur Karo yang dikatakan tidak menggunakan paku, apa benar? Kalau yang dimaksudkan paku yang terbuat dari besi, betul, tidak menggunakan paku. Itu pun hingga pada waktu tertentu.

Soalnya, di Bintang Meriah (Kecamatan Kutabuluh, Dataran Tinggi Karo), ada sebuah rumah adat yang bernama Rumah Labang.

Itulah istilah Karo untuk paku yang terbuat dari besi, LABANG. Itu dinamai Rumah Labang karena mengindikasikan telah menggunakan paku dari besi.

Namun, konstruksi utamanya tidak mungkin menggunakan paku dari besi karena paku dari pangguh (batang enau) jauh lebih kuat daripada besi.

Soal konstruksi yang menggunakan paku atau tidak, jangankan arsitektur tradisional di Indonesia, di seluruh dunia banyak tersebar arsitektur tradisional yang sama sekali tidak menggunakan paku. Juga di Eropah ini.

Ketika saya berkata begitu, banyak orang menganggap saya menghancukan kebanggaan Karo. Ada juga yang kemudian memaki-maki saya ketika saya katakan, tunjukan pada saya data maupun faktanya di dalam dunia praktek kalau Karo mengenal institusi Rakut Sitelu.

Setahuku, hanya ada 2 jenis runggu pada Masyarakat Karo: 1. Runggu AnakBeru--Senina (Sikaku Ranan), 2. Runggu Sangkep Nggeluh (tediri dari: 1. Sembuyak, 2. Senina, 3. Anak Beru, 4. Kalimbubu).

Di situlah saya langsung dimaki-maki oleh orang-orang Karo sendiri. Mereka sepertinya takut menghadapi KENYATAAN, lebih menikmati onani budaya khayalan.