Kolom Juara R. Ginting: Misteri 'alo Angin' Di Rumah
Di konstruksi atap rumah adat Karo ada bagian yang bernama "alo angin ". Demikian juga halnya di konstruksi atap rumah adat Batak. Secara arsitektur kedua "alo angin " ini persis sama, tak ada bedanya.
Keduanya berfungsi memperkokoh rusuk-rusuk atap.
Bedanya hanya pada bahan materialnya. Rusuk-rusuk atap rumah adat Karo dan "alo anginnya " terbuat dari bambu sementara pada rumah adat Batak semuanya terbuat dari kayu (tidak ada dari bambu).
Akan tetapi, bila kita kaji secara linguistik, terdapat perbedaan sangat kontras antara kosa kata "alo " pada Bahasa Karo dan Bahasa Batak. "Alo " di Bahasa Karo berarti menerima, seperti halnya "aloken " (terimalah) dan "alo-alo " (songsong ). Sebaliknya, "alo " di Bahasa Batak berarti lawan atau menolak. https://www.youtube.com/watch?v=FkrIBz5_ca0
Kalau kita kaitkan dengan kata angin, maka "alo angin " pada konstruksi atap rumah adat Karo berperan untuk menerima angin, sementara di konstruksi atap rumah adat Batak adalah menolak angin.
Satu hal lagi yang perlu kita perhitungkan, perlu dipertanyakan mengapa untuk konstruksi atap ini Batak menggunakan kosa kata angin sementara dalam Bahasa Batak angin disebut "alogo ". Ingat lagu A Sing Sing So yang salah satu liriknya berkata: "Lugahon ahu da parahu, ulushon ahu da alogo ." Artinya, "Lajulah perahu, tiupkanlah aku angin."
Apakah ada kemungkinan adanya aliran istilah arsitektur dari Karo ke Batak? Asumsinya adalah bahwa istilah "alo angin " berasal dari Suku Karo yang dipinjam oleh Suku Batak secara mentah-mentah.
Keterangan Foto Sampul: Bambu panjang yang menyilang pada atap terikat satu sama lain dengan rusuk-rusuk adalah "alo angin ". https://www.youtube.com/watch?v=rzbJusjucKs