Kolom Juara R. Ginting: Musuh Berngi -- Pemahaman Tertulis — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Musuh Berngi -- Pemahaman Tertulis

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Musuh Berngi -- Pemahaman Tertulis

Kalangan akademisi dalam negeri maupun luar negeri umumnya mengenal istilah Musuh Berngi sejak membaca tulisan T. Lukman Sinar mengenai Perang Sunggal. Lukman Sinar menjelaskan Musuh Berngi adalah taktik perang gerilya yang dilancarkan oleh Pasukan Datuk Sunggal dalam membakari bangsal-bangsal tembakau Belanda.

Uli Kozok merujuk ke tulisan Lukman Sinar itu saat dia menjelaskan tulisan-tulisan beraksara Karo di seruas bambu yang ditemukan pekerja perkebunan tergantung di bangsal tembaku mereka.

"Musuh Berngi akan dilancarkan bila Tuan tidak membayar upah saya membangun bangsal," demikian kira-kira isi tulisan itu yang dijelaskan oleh Uli Kozok sebagai sebuah ancaman akan membakar bangsal itu di malam hari bila Tuan tidak melunasi pembayaran upah membangun bangsal.

Di Tahun 1990, saya menemukan ancaman yang mirip dengan apa yang disebut Uli Kozok Musuh Berngi itu, ditulis di dalam Aksara Karo pada sehelai kain putih (uis dagangen ) yang dikibarkan pada puncak sebatang tiang bambu. Itu saya lihat di sebuah padang rumput dekat Perkemahan Pramuka Sibolangit.

Isinya: "Cilak matamu, mbilak beltekmu, rere tukamu, adi la ulihkenmu kerbo sitangkomu ."

Dari isi tulisan itu tergambar di dalam benak saya kalau beberapa waktu lalu ada seseorang kehilangan kerbau saat dia menambatkannya di padang rumput di sana. Walaupun isinya berupa ancaman seperti Musuh Berngi yang disebut oleh Uli Kozok, dari penelitian lapangan, saya mengenal itu bersifat magis yang dikenal dengan pengkayah .

Benarkah pengertian Musuh Berngi tiada lain daripada serangan malam alias gerilya?

Ada satu hal menarik dari laporan John Anderson (1826) saat dia mengunjungi Sunggal pada Tahun 1823. Karena Sultan Ahmed (putra Penghulu Buluh Cina) tak kunjung datang sementara Anderson tidak punya banyak waktu, dia dan rombongannya berangkat ke Sunggal tanpa Sultan Ahmed.

Tapi, karena tak seorang pun pendatang dari pantai boleh memasuki wilayah Karo tanpa ditemani oleh seorang dalam, seperti Sultan Ahmed yang ibunya berasal dari Sunggal, rombongan itu harus berjalan melalui pinggiran sungai. Di tengah perjalanan, Sultan Ahmed datang menyusul sambil menunggang seekor kuda.

Kini, ditemani oleh Sultan Ahmed, rombongan bisa berjalan mengikuti jalan biasa menuju Sunggal.

John Anderson menjelaskan mengapa mereka berjalan di tepi sungai menuju Sunggal tanpa Sultan Ahmed, sebagai berikut. Menurut para pemikul barang bawaannya, bila mereka menempuh jalan biasa, mereka akan mendapat serangan Musuh Berngi.

Penjelasan Anderson pada instansi pertama membuat saya teringat istilah frontier yang diperkenalkan oleh Dr. M. Drakard di Barus, Pantai Barat Sumatera. Warga Barus Hilir yang Melayu tidak bisa melintasi garis frontier untuk memasuki wilayah-wilayah Batak di Barus Julu. Sebaliknya, orang-orang Batak bisa memasuki Barus Hilir.

Saya sendiri yang beberapa kali mengunjungi Barus, sangat terkesan dengan adanya penggunaan 2 bahasa di Kota Barus yang batasnya adalah sebuah garis abstrak yang membedakan hulu dengan hilir. Di Hilir, bahasa yang digunakan adalah Minang, sedangkan di Hilir Batak.

Demikian juga terjadi di Pantai Timur Sumatera. Warga Deli Hilir tidak bisa melintasi garis frontier memasuki wilayah-wilayah Karo, sementara orang-orang Karo bebas sampai ke laut hingga berdagang ke Penang. Pada instansi ke dua, saya bertanya di benak, mengapa mereka mesti takut Musuh Berngi sementara rombongan Anderson menempuh perjalanan di siang hari (suari ). Ini membuat saya teringat pengertian berngi di dalam Bahasa Karo yang artinya "lunar day" dan suari "solar day".

Ritual-ritual Karo hanya boleh dilakukan pada saat "lunar day" (berngi ) yang durasinya adalah 24 jam (solar day durasinya 12 jam). Ini sebaliknya dari pemahaman kita sehari 24 jam sementara malam hanya 12 jam.

Untuk menjelaskan hal itu, saya mengingatkan kita pada anjuran waktu menanam padi (merdang ), yaitu "berkat sope teridah ikur babi ". Artinya, babi-babi di rumah kuta belum bangun karena solar day belum tiba.

Berangkat pada lunar day, meskipun tibanya di ladang sudah siang hari, kita tetap berada di wilayah lunar day sehingga peristiwa menanam padi itu terjadi di wilayah lunar day. Bila merdang dilakukan di wilayah solar day maka padi akan meseng (terbakar) oleh matahari.

Demikian juga ritual-ritual Karo, melalui ramalan niktik wari serta menentukan waktu peberkaten , ritual dapat berlangsung pada berngi meskipun dalam perhitungan kita manusia-manusia masa kini itu adalah suari .

Singkat cerita, Musuh Berngi bisa untuk kasus-kasus tertentu berwujud kekerasan seperti halnya Serangan Malam yang dilancarkan oleh Pasukan Datuk Sunggal menghabisi kapital asing di Deli, tapi pada prinsipnya adalah soal KLASIFIKASI. Hal ke dua adalah sebuah pengingat bahwa hanya setelah pendudukan Kolonial Belanda orang-orang Melayu bisa melintasi frontier memasuki Deli Hulu.

Sebagaimana dikatakan oleh Karl J. Pelzer (2012 ) dalam bukunya Planter and Peasent , Sultan Deli memindahkan istananya dari Labuhan Deli (Deli Hilir) ke Istana Maimoon yang terletak di wilayah Urung Sukapiring alias Deli Hulu. Ini menurut Pelzer untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa dia juga berkuasa terhadap orang-orang Karo. https://www.youtube.com/watch?v=IGwQv7iPEvY