Kolom Juara R. Ginting: Peluru — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Peluru

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Peluru

Seorang Batak mengatakan di sebuah grup fb bahwa merga Sitepu (Karo) berasal dari marga Sitopu (Simalungun). "Karena itu ada Sitepu Rumamis di Karo," tambahnya. Ada beberapa kejanggalan atas pernyataannya ini yang saya rangkum dengan istilah "Peluru Ketidaktahuan".

Kejanggalan pertama adalah bahwa istilah Sitepu Rumamis hanya dikenal di kalangan orang-orang Simalungun khususnya yang bermarga Sitopu untuk menyatakan nenek moyang mereka adalah merga Sitepu yang berasal dari kampung Rumamis.

Penjelasan seperti itu saya dapat ketika saya berkunjung ke kampung Huta Pokki (kalau di Karo akan disebut Kuta Pengkih) di Kabupaten Simalungun. Kampung ini didirikan oleh marga Sitopu. Saya menginap beberapa malam di sana di rumah salah seorang pengetua adat mereka dan berbicara banyak dengan keluarga ini mengenai sejarah mereka.

Siangnya mereka sempat mempertontonkan permainan musik di losung setelah saya tanya apakah mereka punya tradisi Gendang Lesung seperti di Karo. Lagu yang mereka nyanyikan saat memainkan Gondang Losung adalah Rondang Bintang.

Kejanggalan ke dua adalah ketiadaan penempatan marga Sitopu diantara 4 marga utama Simalungun: Damanik, Purba, Saragih, Sinaga. Banyak marga Simalungun yang namanya sama atau mirip dengan merga Karo, contohnya Munte dan Girsang, tapi semuanya menjadi bagian dari salah satu marga utama itu. Munte misalnya, di Simalungun adalah bagian Saragih sementara di Karo bagian Ginting.

Lain halnya dengan Sitopu yang tak punya cantolan di Simalungun, tapi kadang mereka tumpangkan diri ke Sinaga. Sementara Sinaga (Simalungun) dianggap senina dengan Perangin-angin, sedangkan Sitepu di Karo merupakan bagian dari Karo-karo.

Kejanggalan ke tiga adalah ketidaktahuan sipenembak "peluru" begitu banyak kampung yang didirikan oleh merga Sitepu di Tanah Karo. Bukan hanya begitu banyaknya kampung yang didirikan, tapi juga mendirikan urung terbanyak. Umumnya sebuah merga Karo hanya mendirikan satu urung . Seperti halnya Bangun yang mendirikan Urung Lima Senina.

Beberapa yang mendirikan 2 urung adalah Munte yang mendirikan Urung Si 7 Kuta Ajinembah dan Si 7 Kuta Tengging. Purba mendirikan Urung 12 Kuta Kabanjahe dan Urung 12 Kuta Laucih. Kembaren mendirikan Urung Liang Melas di Dataran Tinggi Karo dan Urung Bahorok di Karo Hilir (Langkat Hulu).

Sementara Sitepu mendirikan Urung Si 6 Kuta yang beribunegeri Sukanalu Simbelang, Urung Si 4 Teran beribunegeri Bekerah, dan Urung yang lupa saya namanya di Karo Hilir di sekitar Telagah.

Kampung-kampung di Si 6 Kuta yang didirikan oleh Sitepu adalah Sukanalu Simbelang, Rumamis, Sukajulu, Bulan Jahe, dan Bulan Julu. Kampung-kampung yang didirikan Sitepu di 4 Teran adalah Bekerah, Sukanalu, Kutarayat, Sukandebi, Kuta Tengah, Kuta Tonggal, Berastepu, Singgarang-garang dan Simacem. Di Urung yang namanya saya lupa di Langkat Hulu adalah antara lain Bekancan (sekarang muncul sebagai Telagah) dan Kuta Galuh.

Di Kuta Pengkih (Urung Liang Melas), Sitepu ikut simantek kuta , yaitu anak beru taneh .

Begitu banyaknya kampung yang didirikan oleh merga Sitepu di Taneh Karo dan juga dengan jumlah urung terbanyak sementara di Simalungun hanya satu kampung saja didirikan oleh Sitopu, bagaimana membayangkan Sitepu (Karo) berasal dari Sitopu (Simalungun)?

Dari pengakuan mereka sendiri kepada saya di kampung mereka itu, mereka berasal dari Sitepu Rumamis bukan berarti ada sub-sub merga Sitepu Rumamis di Karo. Tapi melainkan, mereka berasal dari Sitepu dan tepatnya yang di Rumamis.

Demikianlah orang-orang mengetahui sedikit dan sangat terlalu sedikit tapi suaranya bisa mengaum memecah anak telinga padahal modalnya ketidaktahuan. Parahnya, mereka sangat tahu kalau orang-orang Karo umumnya tidak tahu juga ada Sitopu di Simalungun dan bagaimana posisinya di sana. Sudah pula karakter orang-orang Karo takut terlihat bodohNYA dan mereka diam saja untuk JAIM (Jaga Image).

Itulah masalah dasar KBB. Orang-orang asing menyebut Karo adalah bagian Batak dengan modal minimnya pengetahuan mereka terhadap daerah itu dan selanjutnya dianggap sudah menjadi standar kepustakaan.

Perhatikan saja tulisan-tulisan missionaris J.H. Neumann. Semua publikasinya menggunakan penyebutan De Karo Batak, sementara surat menyurat dan laporannya ke Masyarakat Zending Belanda (NZG) dia menggunakan istilah Karo saja, seperti halnya saat dia menyebut wilayah kerja NZG dengan sebutan Het Karo Veld yang diterjemahkan oleh Rita S. Kipp dengan The Karo Field dan kalau di Indonesiakan "Ladang Tuhan di Karo".

Rumah ibadah yang didirikan pada tahun 1890 di Buluhawar yang menjadi cikal bakal GBKP bernama Karo Kerk (Gereja Karo) sementara nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) baru muncul pada 23 Juli 1941.

KBB adalah sebuah reaksi positip terhadap seruan Malem Ukur Ginting dari Swedia yang mengatakan "100 tahun Karo sinek " yang mengajak kita tidak lagi tinggal diam seperti dulu. Salah satu tindakan tidak lagi tinggal diam itu adalah mempelajari Budaya Karo sendiri dan kemudian menuliskannya ke media sosial masing-masing.

Tidak usah terlalu banyak berpedoman pada buku-buku apalagi mereproduksi informasi yang sama yang bermodalkan KETIDAKTAHUAN. Kurangi beradu mulut di media sosial kalau kam belum tahu menembakkan peluru ketidaktahuan ditambah muka seram sambil mangogap. Contoh PELURU KETIDAKTAHUAN adalah itu yang sering ditembakkan oleh Trio Batak Warior asuhan Nini Rambit.