Kolom Juara R. Ginting: Pengaruh-mempengaruhi Dan Ilusi Persamaan
Ada anggapan kalau kelompok-kelompok masyarakat yang berdekatan memiliki kebudayaan yang mirip karena adanya saling mempengaruhi diantara mereka. Demikian halnya sebagian orang menganggap adanya kemiripan budaya diantara kelompok-kelompok sosial yang disebut Suku ataupun Rumpun Batak. Kemiripan konstruksi rumahnya adalah salah satu argumen yang dilayangkan dalam menentang Gerakan KBB (Karo Bukan Batak).
Ini terutama menunjuk ke atapnya yang katanya sama-sama terbuat dari ijuk.
Saya sudah pernah menulis untuk menunjukan betapa tidak miripnya rumah-rumah adat Karo, Simalungun, dan Batak . Terkait atap yang terbuat dari ijuk, bukanlah mencerminkan rumah-rumah yang mereka sebut Suku atau Rumpun Batak. Seluruh Asia Tenggara menggunakan atap dari ijuk selain atap dari rumbia atau alang-alang.
Claude Levi-Strauss melalui 4 jilid bukunya THE SCIENCE OF MYTHOLOGY telah menyadarkan dunia ilmu sosial bagaimana pengaruh mempengaruhi di dalam kebudayaan itu masih perlu dipertanyakan. Dia jelaskan itu melalui artikelnya berjudul Asdiwal. Asdiwal adalah sebuah mitos Indian yang bisa ditemukan di dua Suku Indian. Satunya menempati daerah pegunungan dan satu lainnya hidup di tepi pantai.
Dalam versi Suku Indian A yang tinggal di pegunungan, Asdiwal turun dari langit. Sesampainya di bumi, dia melihat ada sebuah gubuk. Dia datangi gubuk itu dan dia temukan ibunya sedang tergeletak di sana. Singkat cerita, terjadi hubungan sexual antara Asdiwal dan ibunya. Itulah nenek moyang Suku Indian A. Mereka adalah keturunan Asdiwal yang berhubungan sex dengan ibunya.
Sementara Asdiwal versi Suku Indian B menuturkan kalau Asdiwal berangkat memancing ke pantai. Tak berapa lama pancingnya ditarik semakin dalam dan semakin ke tengah seperti tarikan ikan besar sekali. Ternyata yang memakan umpannya adalah seorang perempuan cantik jelita. Dia meminta Asdiwal melepaskannya dari pancingnya. Asdiwal bersedia melepasnya bila perempuan cantik itu bersedia kawin dengannya.
Perempuan itu mengiyakannya. Asdiwalpun melepasnya dari pancingnya dan membawa perempuan itu pulang dan mengawininya. Itulah nenek moyang Suku Indian B.
Suku Indian A dan B bertengga dan sama-sama punya mitos asal usul bernama Asdiwal. Tapi ceritanya berbeda sekali. Suku Indian A adalah hasil hubungan Asdiwal dengan ibunya, sedangkan Suku Indian B adalah antara Pemuda Setempat dengan perempuan dari luar.
"Ini bukan perubahan sebuah mitos dalam penyebarannya," kata Levi-Strauss.
Levi-Strauss membandingkan masing-masing mitos itu dengan struktur sosial masyarakatnya. Suku Indian A memang meletakkan hubungan sosial atas dasar perkawinan (marriage alliance) adalah antara seorang laki-laki dengan saudara ibunya.
Seperti Karo yang menunjuk Kalimbubu utama adalah saudara ibunya, beda dengan Batak yang menunjuk ayah/ saudara istrinya sebagai Hula-hula utama seperti halnya Suku Indian B ini. Suku Indian B menekankan marriage alliance utama adalah antara seorang pria dengan ayah/ saudara istrinya seperti Suku Batak .
Artikel Levi-Strauss itu sempat viral menjadi percakapan hangat di dunia antropologi karena perbedaan seperti itu ditemukan juga di Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Di PL, penekanan struktur sosial adalah hubungan antara suami dan istri (Adam dan Eva). Adam adalah dari Bahasa Ibrani, sedangkan Eva dari Bahasa Samaria.
Di PB, penekanan struktur sosial ada pada hubungan antara Ibu (Maria) dan putranya (Yesus). Tidak heran kalau buku tentang Da Vinci Code mencurigai macam-macam adanya hubungan cinta antara Yesus dengan Maria.
Satu lagi bisa saya sampaikan yang membedakan Karo dengan Batak . Pesta perkawinan Batak diadakan di residen pengantin pria, sedangkan pesta perkawinan Karo di residen pengantin perempuan.
Ah, langsung saya dengar teriakan, "jangan kau cari-cari perbedaan."
Padahal orang-orang itu yang selama ini menukang-nukangi persamaan yang hanya berdasakan perasaan lae/ eda saja.