Kolom Juara R. Ginting: Perjuangan
Suku Karo sejak Pre-Kolonial hingga sekarang tidak pernah miskin. Bahkan di Jaman Kolonial mereka semakin kaya. Tapi, mengapa perjuangan melawan Belanda paling dahsyat di Karo Area? Sampai-sampai ada Makam Pahlawan Kabanjahe yang merupakan satu diantara hanya dua Makam Pahlawan di Indonesia (Satu lainnya di Surabaya).
Demikianlah pendahuluan makalah saya pada Peringatan 100 tahun Soekarno pada tahun 2001 di Amsterdam di hadapan para diaspora Indonesia di Nederland.
Jawaban saya waktu itu adalah, ringkasnya, Karo adalah suku mandiri dan tidak mau diatur-atur orang lain. Cinta Rakyat Karo terhadap Soekarno bukan karena alasan ekonomi. Mereka melihat Soekarno betul-betul sebagai penyambung lidah yang mengakui Karo sebagai Karo, bukan bagian dari suku lain.
Dengan begitu, mereka berharap Karo dilihat sebagai suku mandiri di tingkat nasional. Ini semua adalah masalah harga diri. Ini pulalah reaksi saya terhadap pendapat "apapun namanya tidak jadi masalah". Keterangan Foto:
Presiden Soekarno mengenakan kain tenun Karo (Uis Julu) sebagai syal saat menari Karo di kota sejuk Dataran Tinggi Karo (Berastagi). https://www.youtube.com/watch?v=Jh4dE9onRu4&t=87s