Kolom Juara R. Ginting: Pernyataan "tidak Ada Batak" Adalah
Belum tentu orang-orang yang pro KBB (Karo Bukan Batak) menjiwai apa garis perjuangan para penggiat KBB. Belakangan ini, beberapa teman yang ikut memperjuangkan KBB melakukan sebuah blunder dengan mengatakan "tidak ada Batak".
Ada yang mengalaskan bahwa "Batak adalah rekayasa Belanda dan missionaris Jerman".
Mereka tidak tahu kalau beberapa literatur sebelum kolonial sudah menyebut adanya Batak di pedalaman Sumatera, diantara Pantai Timur dan Pantai Barat pulau ini. Oleh karena itu, di kalangan pengusaha dan intelektual di Malaka sebelum kolonial sudah tersebar adanya Batak di Sumatera.
Ada yang mendasarkannya pula pada "tidak adanya Bahasa Batak". Kurang jelas apakah pendasaran ini hanya karena kurang lengkap kalimatnya atau karena tidak tahu ada Bahasa Batak (Hata Batak) yang pemakainya menyebut diri Orang Batak (Halak Batak).
Asumsi "tidak ada Bahasa Batak" sangat didasarkan pada anggapan bahwa Batak semata-mata ditujukan kepada sebuah pengelompokan yang menggabungkan Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, Angkola, dan Mandailing. Oleh karena itu, mereka juga mengatakan "tidak ada Suku Batak kecuali Suku Toba" atau "tidak ada Bahasa Batak melainkan Bahasa Toba".
Mereka tidak mengetahui kalau Toba hanyalah satu diantara 4 kelompok sosial di Sumut yang warganya biasa mengaku diri Orang Batak; 1. Toba, 2. Samosir, 3. Humbang, 4. Silindung. Orang-orang Toba, Samosir, Humbang, dan Silindung menggunakan bahasa yang sama, yang mereka sebut Hata Batak, bukan Hata Toba walaupun literatur terbiasa menyebutnya Bahasa Batak Toba.
Di beberapa Kebaktian HKBP (Huria Kristen Batak Protestant) di kota-kota besar, yang biasa dipadati jemaatnya untuk beribadah Minggu, biasa juga dibuat jadwal kebaktian Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak. Mengapa tidak dibuat Bahasa Toba atau Bahasa Batak Toba kalau mereka semua memang dari Suku Toba?
Terlepas dari perdebatan ilmiah apakah Karo Bukan Batak, Pakpak Bukan Batak, Simalungun Bukan Batak, Angkola Bukan Batak atau Mandailing Bukan Batak, sangat tidak etis mengatakan "tidak ada Batak" sementara jutaan orang terbiasa menyebut dirinya Batak dan bahasa yang mereka pakai sesama mereka adalah, kata mereka, Bahasa Batak.
Kalau sesama mereka sendiri mengaku "hita Batak on " dan mengatakan berkomunikasi satu sama lain dalam "Hata Batak ", sungguh tidak etis mengatakan secara terbuka "tidak ada Batak". Sama tidak etisnya dengan adanya orang berkata di TikTok tidak ada Suku Karo.
Gerakan KBB tidak untuk mencampuri urusan dalam orang-orang yang mengaku diri Orang Batak, tapi melainkan menolak Karo dianggap Batak atau bagian Batak. Gerakan perjuangan KBB adalah ke dalam dan ke luar.
Gerakan ke dalam adalah meyakinkan orang-orang Karo sendiri melalui berbagai cara pencerahan bahwa kita bukan Batak melainkan suku mandiri yang bukan bagian dari suku manapun juga, kecuali bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Gerakan ke luar adalah meyakinkan dan kemudian membiasakan orang-orang non Karo (baik tingkat nasional maupun internasional) untuk tidak menyebut maupun menulis Karo adalah bagian Batak.
Pertanyaan renungan bagi semua orang yang pro KBB (Karo Bukan Batak), apakah masih relevan menyebut Karo Bukan Batak kalau pada waktu bersamaan kita mengatakan pula "tidak ada Batak"?
Renungkan dengan niat pendalaman!