Kolom Juara R. Ginting: Prihatin Kesenian Tradisional
Seorang pertua emeritus menulis di sebuah grup fb Karo betapa memprihatinkannya kesenian tradisional Karo. Dari uraiannya yang panjang tertangkap maksudnya memprihatinkan adalah semakin sedikitnya penampilan kesenian tradisional Karo.
Ucapannya itu adalah sebuah puncak gunung es.
Banyak orang memang berpikir seperti dia. Dan, mereka semua, lebih banyak berasumsi berdasarkan "missi" mereka daripada berdasarkan pengamatan atas peristiwa di lapangan.
Missi mereka adalah mengatakan kita orang-orang Karo tidak peduli dengan kesenian tradisionalnya. Jadi, sebuah kemerosotan kepribadian orang-orangnya, maksudnya. https://www.youtube.com/watch?v=jim9cc9BfFE
Itulah yang lebih penting bagi mereka, yaitu menuduh kita memiliki kualitas berbudaya yang lebih rendah dari mereka. Bukan kemerosotan kesenian tradisional itu sendiri yang mengkhawatirkan mereka.
Memang Kesenian Karo ada pasang surut dan pasang naiknya. Tapi, di saat mereka mengadakan penilaian itu, Kesenian Karo sama sekali tidak seperti yang mereka katakan,
Ada 2 cara menilai sebuah realitas, yaitu secara diakronik (beda waktu di tempat yang sama) dan sinkronik (beda tempat di waktu yang sama).
Secara diakronik (beda waktu), orang-orang sebaya saya masih ingat saat alat-alat musik tradisional semakin lesu ditindih alat musik synthesizer (kibot). Tapi, perlahan alat-alat musik tradisional itu bangkit satu per satu.
Lihatlah betapa banyaknya generasi muda bahkan perempuan yang pintar memainkan kulcapi saat ini. Begitu juga dengan ketteng-ketteng dan surdam. Gendang 5 Sendalanen juga bangkit kembali. Bahkan di acara perkawinan sudah dimainkan Gendang 5 Sendalanen di samping kibot juga sangat penting. https://www.youtube.com/watch?v=x3kh-I-AhkU
Padahal, di tahun 1970an dan 1980an hampir tidak ada acara perkawinan yang diiringi musik untuk menari. Hanya acara pemakaman Cawir Metua dan ritual-ritual penyembuhan yang biasa diiringi musik untuk menari.
Di acara perkawinan bahkan sudah ada pula sesekali kita dengar seorang bibi menyanyikan Doah Didong kepada permenna yang kawin.
Secara sinkronik, mari kita bandingkan penampilan Kesenian Tradisional Karo dengan penampilan kesenian suku-suku tetangganya saat ini.
Bayangkan saja terlebih dahulu penampilan kesenian di Melayu Langkat dan Melayu Deli. Lalu kita pindah ke Tamiang, Alas, Singkel, dan Gayor. Semua suku tetangga kita itu dominan muslim.
Kemudian bandingkan pula dengan Simalungun, Pakpak, dan Batak yang mayoritas Kristen ditambah Mandailing yang dominan muslim. Saya tidak perlu cerita satu per satu mengenai penampilan kesenian tradisional suku-suku tetangga itu. https://www.youtube.com/watch?v=TXc-SoA7Ipk
Kam bayangkan saja. Kita ambil indikator sederhana Kerja Tahun (pesta tahunan). Memang alat musik utamanya Kerja Tahun adalah kibot, tapi sudah dimodifikasi untuk menghasilkan bunyi yang bisa meniru Musik Tradisional Karo. Ketradisionalan Kerja Tahun terutama pada penampilan menari Aron Beru Silima dan Perkolong-kolong.
Karena lain daerah di Karo lain pula waktu kerja tahunnya, hampir sepanjang tahun ada saja acara Kerja Tahun. Saat ini, hampir semua kampung mengadakan acara Kerja Tahun.
Betapa banyaknya penyanyi pop Karo berubah profesi menjadi Perkolong-kolong karena sangat menjanjikan pemasukan ekonomi yang banyak. Bahkan ada yang beralih profesi dari pelawak menjadi perkolong-kolong.
Adakah Pesta Tahunan masih dilaksanakan di suku-suku tetangga yang saya sebutkan tadi? Kam bayangkan dan renungkan saja sebelum membuat penilaian lagi tentang merosotnya Kesenian Tradisional Karo. https://www.youtube.com/watch?v=Wh5xUn25zFM