Kolom Juara R. Ginting: Principle In — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Principle In

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Principle In

Ingat rumus "E=mc²"? Apa itu? Itu adalah prinsip dari sebuah gejala alam tertentu, khususnya dalam rangka memahami sesuatu yang PALING prinsipil tentang energi. Begitulah yang DITEMUKAN oleh Einstein melalui PENELITIAN yang dilakukannya.

Begitu juga sasaran akhir dari Antropologi, khususnya Antropologi Struktural, yaitu menemukan hal paling prinsipil di dalam satu atau serangkaian gejala di dalam kebudayaan.

Di dalam Ilmu Sosial kita ambil contohnya penemuan Emile Durkheim tentang hal paling prinsipil di dalam religi. Jawabannya adalah adanya pembedaan antara hal-hal sakral dan hal-hal profan (duniawi).

Tentu saja penemuan-penemuan terbaru bisa saja mengkritik dan, bahkan, ada kemungkinan dunia ilmu pengetahuan mengubah pikiran para ilmuwan secarsa frontal setelah adanya penemuan baru yang lebih meyakinkankan mereka.

Tapi, bukan itu topik yang hendak saya diskusikan di kesempatan ini. Melainkan, saya mencoba memberi pengertian kepada Masyarakat Media Sosial (yang warganya terdiri dari banyak berbagainya) bahwa kajian Ilmu Pengetahuan terhadap kebudayaan tidak berhenti sebatas mencatat dan menafsir bebas apa yang dilakukan oleh kelompok sosial tertentu dalam satu atau beberapa upacaranya.

Sebagai contoh menafsir bebas sebuah tradisi bisa kita temukan dalam perdebatan media sosial tentang Mas Kawin Karo. Sepihak mengatakan perempuan sudah dibeli oleh pihak laki-laki sedangkan pihak lawannya mengatakan mas kawin bukan pembelian perempuan oleh laki-laki. Kedua belah pihak tidak mengemukakan penjelasan apa-apa.

Antropologi sudah lama mengkaji sistim pertukaran hadiah di dalam banyak masyarakat di dunia. Dimulai oleh penelitian Marcell Mauss yang dia tuangkan dalam bukunya THE GIFT dan diperkaya oleh para peneliti Antropologi lainnya, khususnya kaum strukturalis dari Leiden, Paris, dan London.

Belakangan, teori-teori yang berkembang di Dunia Antropologi ini dikembangkan untuk menganalisis "curent exchange" yang mempengaruhi perekonomian dunia.

Kita tidak usah sejauh itu. Tulisan ini mencuat karena sudah terlalu sebel melihat pelukisan-pelukisan Kebudayaan Karo hanya sebatas hapalan, menunjukan penulisnya bisa menghapal banyak, tanpa sedikitpun usaha untuk melihat lebih dalam lagi ke arah penemuan prinsip.

Adakah sebiji tulisan saja yang bisa menjelaskan mengapa saudara ibu (mama) pengantin pria menerima bagian Mas Kawin dan mengapa pula namanya Ulu Emas? Bukankah dia berada di pihak pengantin pria?