Kolom Juara R. Ginting: Resapan Bahasa Indonesia Atau Peninggalan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Resapan Bahasa Indonesia Atau Peninggalan

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Resapan Bahasa Indonesia Atau Peninggalan

Pernah saya memperkenalkan nama-nama bagian konstruksi rumah adat Karo untuk menunjukan bagaimana banyaknya kemiripannya dengan Bahasa Melayu, bukannya Bahasa Batak. Seperti halnya bubungen, jangka, raris, papan, sendi, pasuk, sangka manuk, palas, tunjuk langit , dan perampu . Seseorang mencoba membantah saya dengan kemungkinan itu resapan dari Bahasa Indonesia.

Terutama di dalam kata bubungen dan tunjuk langit .

Memang bubungen dikenal luas di dalam Bahasa Indonesia dengan varian bubungan. Tapi, dia yang sarjana ekonomi tidak mengikuti diskusi persebaran Bahasa Melayu dan Bahasa Austronesia. Bubungan dalam Bahasa Indonesia jelas berasal dari Bahasa Melayu dan Bahasa Melayu adalah bagian dari Bahasa Austronesia.

Baginya, dan bagi banyak orang yang tidak mendalami persebaran bahasa, Bahasa Melayu hanyalah bahasa yang dipakai sekarang ini oleh orang-orang Melayu. Tidak heran kalau orang-orang Batak mengamuk saat saya menulis beberapa kosa kata Batak berasal dari Bahasa Melayu; a.l. Pusuk Buhit (pucuk atau puncak dan bukit), aek (air) dan horas (dari haras dan haras dari karas selanjutnya karas dari keras). Mereka menuduh saya si tolol yang tidak pernah sekolah.

Mereka tidak mengetahui kalau para pakar bahasa mengasumsikan sebelum ada bahasa-bahasa yang dipakai oleh orang-orang Karo, Simalungun, Pakpak, Batak, Angkola, dan Mandailing sudah ada Bahasa Melayu. Bahkan, bahasa-bahasa ini dikatakan berasal dari Bahasa Melayu.

Itu pulalah dasar Hendri Guntur Tarigan mengatakan Bahasa Karo lebih tua dari Bahasa Batak karena lebih dekat pengucapannya ke Bahasa Melayu. Contohnya adalah hami, hita, pusuk, buhit , dan halang ulu . Pendapat ini juga yang diikuti oleh Uli Kozok untuk mengatakan Bahasa Karo lebih tua daripada Bahasa Batak tanpa sekalipun menyebut nama Hendri Guntur Tarigan seolah-olah itu penemuannya sendiri.

Memang, orang-orang Batak sudah lama terlalu percaya kalau mereka adalah suku tertua di sekitar ini yang kemudian menyebar ke sekitar memunculkan beberapa subsuku lainnya seperti Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing. Bahkan Gayor, Alas, dan Singkel mereka claim sebagai penyebaran mereka.

Mereka terkejut sekali mendengar kesimpulan Balai Arkeologi Aceh-Sumut kalau orang-orang Gayo dan Karo jauh lebih tua dari mereka.

Meskipun pakar arkeologi dan bahasa telah menyimpulkan Karo jauh lebih duluan ada baru muncul Batak, masih banyak orang pikirannya berada di alam lama bahwa Bahasa Karo adalah bagian dari Bahasa Batak.

Lihat saja bagimana P. Tambun berspekulasi mengenai asal usul nama Karo dalam bukunya ADAT ISTIADAT KARO (1952) terbitan Balai Pustaka, Jakarta. Katanya, Karo adalah gabungan dua kosa kata: Ha dan Ro . Ha adalah abjad pertama di dalam Aksara Batak dan Ro berarti datang dalam Bahasa Batak. Haro berubah menjadi Karo yang artinya orang pertama datang ke Tanah Karo sekarang.

Itulah latar belakang tulisan Hendri Guntur Tarigan, membantah spekulasi P. Tambun dengan mengetengahkan teori linguistik bahwa pengucapan "ka " lebih tua daripada pengucapan "ha " seperti dalam kata-kata "kami" di Karo sama dengan Melayu sementara Batak mengucapkannya "hami".

Namun, apa hendak dikata, alam lama yang berasumsi Karo berasal dari Batak masih menggerayangi pikiran orang-orang, tidak hanya Orang Batak tapi juga Orang Karo yang mengaku Batak Karo.

Demikianlah dengan kosa kata "bubungen " yang sangat mudah memprovokasi orang-orang sebagai resapan Bahasa Indonesia karena kosa kata bubungan dikenal luas di dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja lain halnya dengan saya yang mendalami arsitektur Asia Tenggara dimana para pakar Austronesian House dari Australia yang dikomandoi oleh Prof. Dr. James J. Fox telah mengetengahkan bubungan adalah kosa kata Bahasa Austronesia (lebih tua lagi dari Bahasa Melayu). Sama halnya dengan nama para atau para-para .

Demikian juga dengan nama Tunjuk Langit , tiang penyangga atap. Memang adik-adik akhirnya menemukan di internet kalau istana Melayu di Riau juga menggunakannya. Tapi, argumen saya waktu itu, istilah itu tidak dikenal di dalam Bahasa Indonesia maupun arsitektur-arsitektur Melayu yang berada di dekat Karo seperti Melayu Langkat, Deli, dan Asahan.

Dengan kata lain, pemakaian Tunjuk Langit oleh orang-orang Karo adalah peninggalan Bahasa Melayu, bukan resapan (diffusi) dari Bahasa Melayu ataupun Bahasa Indonesia. https://www.youtube.com/watch?v=h0rTlT1Z3KI&t=72s