Kolom Juara R. Ginting: Romantisme, Idiologi Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Romantisme, Idiologi Dan

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Romantisme, Idiologi Dan

Saat itu, saya masih duduk di bangku SD Kelas 6. Saya sering ngobrol dengan bengkila , seorang mahasiswa yang kost di rumah kami, Titirante (Medan). Bengkila itu bertanya pada saya: "Kalau kam nanti sudah dewasa, perempuan yang bagaimana kam inginkan menjadi pacar atau istrindu?"

"Aku mau gadis desa," kataku.

"Mengapa?"

"Gadis desa masih perawan. Gadis kota lanai sada pe terteki e ," kataku sangat serius.

Tak kusangka-sangka, bengkila itu tertawa mecek beltek . Setelah dia berhasil menenangkan dirinya sejenak dari ketawa terus menerus dia pun menjelaskan padaku.

"Jangan salah sangka kam, permen . Kebebasan dan kesempatan melakukan hubungan sex di kampung jauh lebih besar daripada di kota," katanya dengan bersusah payah menahan tawa.

Perlu diingat, saat itu masih di tahun 1975. Yang dikatakan Rumkit (Rumah Kitik-kitik) masih hanya gubuk-gubuk di ladang dekat pemandian Tuntungan. Hotel hanya bisa didapati di pusat kota. Itupun hanya untuk orang-orang kaya. Belum ada sama sekali hotel kelas melati.

Aku melihat kebenaran kata bengkila itu ketika memasuki masa remaja. Sewaktu duduk di kelas 2 SMA aku diminta memperkuat Berastepu Putra, sebagai penjaga gawang, untuk mengikuti kompetisi Divisi Utama PSSK Karo di Kabanjahe.

Hasil akhir dari kompetisi itu, kami Runner UP. Klub Pemda, Pijer Podi, sebagai Juara 1 dan Yon Simbisa 125 Juara 3. Berastepu adalah satu-satunya klub kuta-kuta , selebihnya dari Kabanjahe (seperti Dinas PU, Polres, dll) dan Berastagi (PS Guntor asuhan Buyung Manik).

Peristiwa yang saya berantam di lapangan dengan tentara Yon 125 hingga satu diantara mereka dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans disertai tembakan pistol ke udara oleh wasit Jumli (yang juga seorang polisi) membuat saya menjadi lebih terkenal.

Tentu juga karena kualitas saya sebagai penjaga gawang sehingga masuk seleksi PSSK (dengan pelatih Buyung Manik) dan setahun kemudian lulus seleksi POPSI Medan bersama beberapa pemain terkenal nantinya di PSSI (Marzuki Nyakmad), Medan Jaya (Taufik Azari), dan PSMS (Simon).

Di situlah mulai saya rasakan betapa agresifnya gadis-gadis di Kabanjahe dan kampung-kampung Karo. Hingga suatu saat, saya tertarik pada seorang gadis di Berastepu. Saya mendatangi rumahnya dan berkata pada orangtuanya hendak bertamu dengannya yang bernama X.

"Eh, ngerana atendu ras bibindu ? O ... Anu, kam nina anakndu enda ," kata ayahnya yang ternyata aku ertutur nini bulang padanya.

Bibi X pun datang dari dapur menuju pintu depan dengan ceria.

"Teruh ah kam ngerana ras anakndu e, nakku ," kata nini bulang kepada Bibi X.

Akupun terbengong-bengong. Maksud mau menunjukkan diri sebagai lelaki gentlement berani menemuinya ke rumahnya. Ternyata malahan disuruh ngobrol teruh ah . Padahal hari sudah malam. Kejadian seperti ini jangan harap di Medan pada masa itu. Tak ada anak gadis keluar malam. Sering kita lihat orang pacaran di teras rumah orangtua si cewek.

Beberapa tahun kemudian, ketika sudah duduk di bangku kuliah, saya membaca tulisan missionaris pertama ke Karo, H.C Kruyt. Karena menyadari warga Buluhawar hanya malam ada di rumah mereka dan itupun semua sibuk memasak sepulang dari ladang, maka Kruyt memutuskan untuk menjumpai mereka di ladang.

Tapi, alangkah terkejutnya dia setelah menyadari pasangan suami istri melakukan hubungan sex di ladang, bukan di rumah adat. Nantinya saya menyadari bahwa memang rumah adat Karo itu bukan hanya tempat tinggal (dwelling place), tapi sebuah House dalam arti yang sama dengan noble house di bangsawan-bangsawan klasik Eropah.

Pengalaman Pdt. J.H. Neumann di Buluhawar yang lebih lucu. Seperti pengalaman saya di Berastepu, dia terkejut pertama kali tiba di Buluhawar. Katanya, begitu bebasnya singuda-nguda anak perana di malam hari berbicara berduaan di kolong rumah adat dan sada kampuh pula.

Keterkejutannya ini bisa dimaklumi karena di masa itu, di Belanda, tidak boleh laki-laki dan perempuan dewasa yang bukan suami istri berjalan berduaan tanpa ada orang lain. Kalau mereka sudah serius, biasanya mereka meminta seorang perempuan yang sudah kawin atau janda menemani mereka agar bisa berduaan di luar rumah.

Lebih lucunya lagi, ketika istri dan putri Neumann tiba di Belawan. Neumann menjemput mereka disertai beberapa warga Buluhawar yang sudah masuk Kristen. Mereka terkejut sekali ketika Neumann berpelukan dan saling cium dengan putrinya yang sudah anak gadis.

Ini yang menarik. Kemarin itu, kita banyak mendiskusikan soal ada atau tidak ada peristiwanya. Kali ini, kalau kita mengamati peristiwa Neumann saling cium dengan putrinya yang sudah dewasa dengan nilai-nilai Karo saat itu, ih ..... mejin, ngeri ! Tapi, di dalam konteks Kebudayaan Belanda sendiri kejadian itu adalah lumrah dan memang harus begitu.

Saya jadi teringat desertasi Masri Singarimbun dimana dia mengatakan perkawinan impal (sepupu silang) adalah ideal, tapi orang-orang Karo sendiri menghindarinya. Dari survey yang dilakukannya, hanya 1,2% orang Karo yang melaksanakan kawin impal, tulisnya.

Jadi, mengapa dikatakan perkawinan ideal kalau memang dihindari? Dia juga menulis ada nilai di Karo kalau kawin dengan impal tidak menambah luas perkade-kaden . Sekali lagi, kok disebut ideal kalau memang dihindari?

Herannya, orang-orang Karo sering pula mengatakan Masyrakat Karo masih kolot karena memaksakan anak-anak mereka kawin dengan impal nya. Padahal, seperti penelitian Masri Singarimbun itu, sudah dari dulu orang Karo tidak suka kawin dengan impal. https://www.youtube.com/watch?v=gakydd6dMGk

Justru, menurut pengamatan saya sendiri, sejak adanya fenomena merantau ke Jawa lah terjadi peningkatan kawin impal . Berarti, ini gejala modern, bukan gejala kuno. Sama dengan yang dikatakan bengkila dulu pada saya, dan juga dikonfirmasi oleh Pdt. H.C Kruyt dan Pdt. J.H. Neumann, sex di Masyarakat Karo bukan seperti Kebudayaan Karo menurut versi gereja sekarang ini.

Anggapan kawin ideal itu yang sudah mempengaruhi tafsir kita pada ritual Cabur Bulung makanya diterjemahkan Kawin Gantung dalam arti sudah dibuat ikatan agar nanti dilanjutkan ke jenjang perkawinan sesungguhnya.

Hendri Guntur Tarigan sendiri dalam sebuah tulisannya di Sumatra Research Council (diterbitkan oleh Prof. M. Jaspen dari Inggris dalam bentuk buletin bulanan dan berhenti penerbitannya setelah Jaspen gantung diri di Inggris).

Padahal, sebagian besar kasus Cabur Bulung adalah penyembuhan. Demikianlah kata saya sewaktu menjadi dosen tamu di Universitas Copenhagen (Denmark) dalam mata kuliah Medical Anthropology.

Sekalian saya menunjukkan video hasil rekaman saya sendiri dan diedit di Universitas Leiden. Setelah melihat video saya inilah saya diminta membuat film dokumenter ke Nias, mengenai alam dan budaya Teluk Dalam, oleh Dr. Bente Wolf yang sekarang menjadi direktur Museum Nasional Copenhagen.

Dari segi istilah perkawinan, kita kenal istilah berkat muat sukat sinuan yang artinya kawin untuk menanam sukat . Beda dengan dengan kawin erdemu bayu yang tujuannya adalah untuk memulai tanam padi, ikut dalam sirkulasi tahunan dalam sosio-kosmologi Karo.

Nah, apa cabur bulung ? Begitulah saya mengawali diskusi di kuliah-kuliah saya mengenai Medical Antrhopology di Denmark (Universitas Copenhagen dan Universitas Moesgard).

Kesadaran tehadap cara berpikir kita sendiri dengan kenyataan dari peristiwa yang kita lihat sangat penting dan memang sulit. Istilah upacara Nujuh Bulanan dikenakan terhadap Mbesur-mbesuri atau Mbaba Manuk Mbur (bukan Nganting Manuk) adalah memusnahkan realitas Karo dan mempersembahkannya ke realitas Jawa.

Karena, di Karo itu bukan 7 bulan patokannya, melainkan 100 dan 200 berngi . Saat berusia 100 berngi itulah jabang bayi dianggap sudah menjadi manusia hidup. Bila akhirnya gugur setelah itu, wajib dibuatkan kuburannya (mate sada wari atau mate milas yang rohnya nanti menjadi Butara Guru).

Seperti Masri Singarimbun juga pernah menulisnya, pengguguran secara sengaja setelah kehamilan 100 berngi adalah sebuah peristiwa pembunuhan di dalam realitas Karo. Sebelum 100 berngi , jabang bayi tidak berhak mendapat kuburan. Bila anak pertama, setelah 100 berngi maka dia tetap sebagai anak sintua .

Ngulihi Tudung dilaksanakan setelah kehamilan 100 berngi anak pertama. Ini dilakukan sekalian untuk menjemput page sinuan untuk merdang pertama dari keluarga baru ini. Di saat itu pula dilakukan merdang dengan membuat Pemenan Juma yang sekaligus menandakan jabu ini sudah berada di dalam Orbit Society.

Istilah Pemena untuk kepercayaan tradisional Karo bukanlah karena itu yang dianggap agama paling awal, akan tetapi adalah orang-orang yang menjadi manusia karena berafiliasi pada ritual Mena Juma, one's starting point in his/ her social life. https://www.youtube.com/watch?v=lQ-AAXibZ7Y