Kolom Juara R. Ginting: Sejarah Gbkp Sebuah
Lebih 15 tahun lalu (pastinya saya sudah lupa), ketika belum ada facebook kecuali "mailing list yahoogroups", sekelompok kecil kami mulai memperkenalkan wawasan bahwa Karo Bukan Batak. Nantinya dikenal di mailing list itu dengan singkatan KBB.
Ada satu penolakan yang berulangkali kami terima seperti ini:
"Jangan kau sok jago anak kemarin sore. GBKP sudah berusia lebih 100 tahun, berarti nenek moyang kita sudah menganggap dirinya Batak."
Karena itu-itu saja jawaban dari sekelompok orang itu, lalu saya katakan, nama GBKP itu baru muncul pada tahun 1941 melalui sidang sinodenya yang pertama di Sibolangit.
Saya langsung dibully habis-habisan sebagai perongrong GBKP. Saya pun jadi terheran. Mereka yang memulai bawa-bawa nama GBKP, tapi ketika argumen mereka dibantah, langsung NGGURPAS dan saya yang dituduh sakit hati sama GBKP.
Demikian PROPAGANDA itu mulai dengan menyudutkan Gerakan KBB sebagai tokoh BANDIT dan mengajak orang-orang menyelamatkan Si Anak Emas ini (GBKP) dari para bandito KBB.
Posisi saya memang saat itu genting. Saya diserang dari depan tapi tidak ada teman yang membela saya dari belakang. Karena mereka sendiri tidak tahu apakah statement saya itu benar atau hanya saya karang-karang saja untuk mengelabui lawan.
Sepertinya kawan-kawan penggerak KBB sendiri percaya kalau nama GBKP itu sudah berusia lebih 100 Tahun.
Sejak itu pulalah hingga sekarang selalu saya ulangi bahwa "Musuh terbesar dari Gerakan KBB adalah KETIDAKTAHUAN. Dan oleh karena itu, gerakan KBB yang utama adalah PENCERAHAN dengan program terdepan MENGANGKAT KE PERMUKAAN SEGALA HAL MENGENAI KARO; alamnya, manusianya, budayanya, masyarakatnya, sejarahnya, ekonominya (terutama pertanian) dan pariwisatanya.
Hasilnya, sekarang ini, hampir tidak ada lagi orang yang tidak tahu bahwa nama GBKP baru ada sejak tahun 1941. Sebelumnya yang ada adalah Karo Kerk (Gereja Karo) yang sering pula dipelesetkan ke Gereja Karo Protestan supaya tidak dikacaukan dengan Gereja Karo yang terus hidup sampai sekarang di Siantar dan sekitanya.
Demikian juga dengan pencerahan-pencerahan lainnya yang sering kami terima balasannya adalah makian dan kutukan. Saya hanya memperingatkan kawan-kawan dengan kalimat-kalimat seperti ini:
"Maafkan saja, mereka tidak tahu apa yang mereka ucapkan. Akan indah pada waktunya," kataku sambil tersenyum (karena dalam hatiku pun berkata: Anak e ).
"Mulahi biang kicat kap kita bas KBB e ," kata mereka pula.
"Ue, tapi 50 tahun ia enggo jadi supir Sinabung Jaya ," kataku dan mereka pun tertawa.
Memang harus dihadapi santai biang kicat itu.