Kolom Juara R. Ginting: Text And Context -- Dari — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Text And Context -- Dari

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Text And Context -- Dari

Seseorang mengirimkan video TikTok ini (lihat di bawah) kepada saya sambil bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Saya lalu menelponnya dan menjelaskan "context" video itu agar dia mengerti "text" di dalam video. Baru setelah penjelasan saya tentang "context" video itu dia memahami isi "text" yang terkandung di dalamnya. Seluruh isi video (audio + visual) dapat kita anggap sebagai text, bukan hanya ucapan yang ditulis di situ. Ini adalah contoh bagaimana text bisa dipahami setelah mengetahui context-nya.

Context bisa kita artikan secara sederhana hal-hal atau perisitiwa-peristiwa lain di sekitar tapi di luar peristiwa yang terlihat pada text.

Diskusi mengenai "text and context" berawal dari usaha memahami hal-hal di seputar ayat-ayat Alkitab. Ini terkait dengan ketidakpuasan memahami isi Alkitab dengan membahas ayat per ayat atau mengkaitkannya dengan ayat-ayat lain di Alkitab maupun dengan kitab-kitab lain yang berhubungan dengan ayat yang bersangkutan.

Sehubungan dengan itu, Ilmu Sejarah dan Arkeologi menjadi sangat penting dalam diskusi itu. Misalnya, kita bisa memahami mengapa Yesus dituduh hendak menggerakkan pemberontakan karena pada saat itu Israel dijajah oleh Kerajaan Romawi. Padahal, menurut text, Pontius Pilatus tidak menemukan indikasi itu.

Kebutuhan terhadap context kemudian berkembang di kalangan missionaris karena mereka ingin memahami kebudayaan setempat terutama dalam context ketuhanan terkait dengan upaya menterjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa lokal dan menyampaikan isi Alkitab ke warga lokal. Untuk itu, mata kuliah Etnologi yang kemudian menjadi Antropologi sangat penting di seminari dan Jurusan Teologi di Eropah dan Amerika.

Lebih lanjut lagi, Katolik kemudian menghasilkan Enkulturasi untuk menerapkan prosesi Katolik dengan cara-cara lokal seperti halnya "mirpiri " yang diangkat dari upacara tradisional Karo. Demikian juga GBKP atas ajakan Pdt. Dr. Mindawati Perangin-angin untuk melakukan pendekatan Kontekstual, tapi sampai sekarang belum diterima.

"Text and Context" penting di Antropologi terutama dalam upaya memahami legenda dan mitologi. Dari situ kita bisa memahami mitologi yang mengatakan nenek moyang sebuah masyarakat turun dari langit merupakan sebuah metafor bahwa masyarakat itu berasal dari luar. Beda dengan Adam (yang artinya Manusia yang terbuat dari Tanah) adalah metafor bahwa dia adalah orang setempat bukan berasal dari luar Israel.

Sekarang ini sudah ramai pula orang-orang membuat TikTok. Kadang videonya sangat bagus teramat bagus tapi penonton tidak mengerti apa yang sedang terjadi atau apa yang mau ditunjukkan lewat video itu.

Seperti video ini, saya bisa mengerti karena mengenal video itu dari grup-grup Karo yang membagikannya dengan keterangan dan komentar-komentar para member grup. Kebetulan pula saya mengikuti berita-berita proses pelaporan yang disebutkan pada teks. https://www.youtube.com/shorts/vyUdm7_oGms