Beberapa hari lalu, seorang Batak berseru di TikTok menjelaskan "tidak ada suku Pakpak". Dia kemudian menjelaskan di TikTok itu juga apa yang dimaksudkannya dengan pernyataannya itu. Lalu, sekelompok orang-orang Pakpak melaporkannya ke polisi.
Polres Dairi kemudian menangkap orang Batak itu yang mengaku bernama Escobar.
Escobar dipersangkakan melakukan penghinaan terhadap Suku Pakpak. Saya katakan dia, si pelaku, sebagai orang Batak adalah apa yang di luaran terutama di dunia tulis menulis dikenal dengan istilah Batak Toba. Mereka sendiri lebih suka mengaku diri Orang Batak, terutama terhadap sesama mereka yang berbahasa Batak.
Ada 4 kelompok Batak (sub Batak) yang saling mengerti dengan menggunakan Bahasa Batak, yaitu 1. Batak Toba, 2. Batak Samosir, 3. Batak Humbang, dan 4. Batak Silindung. Kecuali Batak Toba yang menjadi pengganti Batak di dunia tulis menulis, kelompok-kelompok ini kurang dikenal di dunia luar Batak.
Escobar Penghina Suku Pakpak, Diamankan Polres Dairi Atas Penghinaan Suku Pakpak - Intel Post News
Konteks pernyataan Escobar dapat kita telusuri ke pengelompokan lain Suku Batak dengan sub-subnya Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Pengelompokan inilah yang biasa dikenal di luaran dan dunia tulis menulis.
Belakangan ini, tumbuh subur gerakan Bukan Batak. Gerakan seperti ini sudah ada sejak Jaman Kolonial, tapi terbatas pada orang-orang Mandailing yang hampir 100% beragama Islam sementara orang-orang Batak hampir pula 100% beragama Kristen.
Gerakan Bukan Batak melalui internet dimulai oleh-oleh orang-orang Karo. Pada awalnya di beberapa mailing list yahoogroups. Setelah kemunculan Facebook, gerakan Karo Bukan Batak (KBB) semakin semarak yang kemudian diikuti oleh Pakpak Bukan Batak dan Simalungun Bukan Batak. Mandailing Bukan Batak pun bangkit kembali. Belakangan ini semarak pula di TikTok.
Tidak berapa lama sebelumnya, tindakan serupa dilakukan oleh seorang Batak lainnya di TikTok dengan mengatakan "tidak ada Suku Karo". Dia mengatakan hanya ada Suku Batak Karo, tapi bukan Suku Karo.
Kedua orang Batak itu adalah Puncak Gunung Es yang orang-orangnya selalu merasa lebih tahu mengenai Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Ada satu hal yang membuat mereka berani merasa lebih tahu dari orang-orang Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing meski mereka tidak punya latar belakang ilmiah untuk membicarakannya.
Mereka sudah dididik oleh komunitas mereka untuk yakin seyakin-yakinnya bahwa kelompok-kelompok itu semuanya berasal dari Batak.
Kebetulan pula mereka cenderung bersifat ekstrovert, sementara orang-orang Karo, Pakpak, dan Simalungun berkarakter introvert. Seperti yang pernah ditulis oleh seorang antropolog Amerika, Dr. Rita S. Kipp, ketika orang-orang Batak mengatakan mereka adalah juga Batak, orang-orang Karo diam saja. Tapi nantinya, ketika Orang Batak itu pergi, mereka mulai berbisik-bisak mengatakan mereka bukan Batak.
Merasa didiamkan selama ini, maka keberanian orang-orang Batak semakin menjadi-jadi. Mereka semakin percaya lebih tahu dari kebanyakan orang Karo tentang Sejarah dan Kebudayaan Karo. Ketika mereka saling berkenalan dengan seorang Karo yang memperkenalkan diri merga Ginting, mereka langsung (tanpa filter sama sekali) mengklaim Ginting adalah Parna, satu kelompok marga-marga Batak.
Mereka tidak mau tahu kalau pada tingkat kakek nenek generasi Karo yang hidup sekarang ini tidak pernah mempelajari merga Ginting masuk Parna. Bahkan mereka sama sekali tidak mengenal apa itu Parna. Pengetahuan tentang Parna adalah pengetahuan orang-orang Batak yang dipaksakan untuk diketahui juga oleh orang-orang Karo.
Penentangan terhadap Karo Bukan Batak (KBB) memang masih ada dari orang-orang Karo sendiri dan orang-orang Batak yang merantau ke Taneh Karo. Tapi, penentangan yang cenderung agresif dan merasa berhak "membantai" penggiat KBB dalam berbicara atau menulis sebagian besar adalah orang-orang Batak.
Sungguh arogan!
(2) Facebook (video bagaimana dia mentertawakan Suku Pakpak)