Kolom Juara R. Ginting: "toba Berasal Dari Hatoban" Adalah — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: "toba Berasal Dari Hatoban" Adalah

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: "toba Berasal Dari Hatoban" Adalah

Sedang beredar sebuah video yang disuarakan oleh seseorang bermarga Sinaga mengatakan secara etimologi Toba berasal dari "hatoban". Langsung pula disambut oleh seorang penyeru "Karo Batak Situhuna " (Nini Batak) mengindikasikan dia setuju dan senang dengan asumsi itu. Suara-suara seperti itu bagi saya adalah suara pertengkaran.

Selain secara ilmiah mudah sekali dipatahkan, pernyataan seperti itu memancing huruhara di dalam suku maupun antar suku.

Hatoban dalam Bahasa Batak berarti kaum budak dengan kata dasarnya "toban " (bukan toba) yang artinya "tawan" dalam Bahasa Melayu dan "taban " dalam Bahasa Karo.

Secara harafiah, "hatoban " artinya "tawanan". Tapi orang-orang Batak telah mengartikannya secara luas sebagai kelas sosial yang tak punya adat istiadat, yang di dalam literatur biasa diterjemahkan "budak". Sebagai contoh, ketika saya bertanya kepada seorang nenek tua di sebuah kampung pedalaman Samosir mengapa sebagian rumah adat mereka tangganya langsung ke pintu, bukannya dari kolong rumah.

Sebagai tambahan untuk pembaca, rumah adat yang masuk lewat kolong rumah disebut Jabu Si Tolumbea, sementara yang masuk lewat pintu depan namanya Jabu Sampuran.

Menurut nenek itu, Jabu Sampuran itu jabu ni hatoban . Saya sedikit terkejut atas penjelasannya karena dalam kepustakaan hatoban biasanya dijelaskan budak. Sementara nenek itu menjelaskan tanpa mengesankan yang dimaksud itu budak seperti pengertian kita, tapi melainkan sesuatu yang tidak mengikuti aturan adat.

Ketika saya tanyakan lebih lanjut, baru saya mendapat pengertian lebih dalam bahwa Jabu Sitolumbea itu adalah menurut konstruksi ideal sedangkan Jabu Sampuran tidak ideal tapi tidak ada salahnya. Kalau terus diteoritasi, bisa dikatakan Jabu Sitolumbea itu bersifat religius sedangkan Jabu Sampuran sekuler atau, kalau kita mengikut terminologi Emile Durkheim, satunya sakral dan lainnya profan.

Tentang nama Toba, saya lebih menduganya itu kombinasi kata "to " dan "bah ". To adalah kosa kata Austronesia seperti di dalam To Raja yang biasa ditulis Toraja yang dewa penguasa alam. Sementara "bah" dari Bahasa Sansekerta yang artinya aliran air besar sebagaimana masih dipakai di Simalungun untuk sungai aliran besar.

Saya pernah juga menulis kalau Karo pernah menggunakan kata bah untuk sungai aliran besar sebelum berganti ke lau . Contohnya adalah Bah Burah nantinya disebut Sungai Babura oleh Melayu sementara Karo menyebutnya Lau Burah, bukan Lau Babura. Demikian juga Bah Lumei berubah menjadi Belumei (Karo, Lau Lumei), Bah Kerah berubah menjadi Bekerah (bukan dari Bakkara menjadi Bekerah), Bah Kancan berubah menjadi Bekancan (Karo Lau Kancan), Bah Keri berubah menjadi Bakeri (Karo Lau Keri).

Gerakan KBB (Karo Bukan Batak) bukan gerakan pembenci Suku Batak apalagi menjelek-jelekkan mereka, tapi adalah gerakan pencerahan untuk meluruskan jati diri Karo bukan bagian dari suku manapun juga.

Saya melihat akhir-akhir ini gerakan TikTok banyak sekali yang memancing pertikaian antara suku-suku di Sumut. https://www.youtube.com/watch?v=LeUhDvwWVHg&t=27s Video Perdata Nangin