Kolom Nisa Alwis: Mengunjungi
Meluangkan waktu mampir ke desa Penglipuran bukan untuk berburu foto-foto selewatan. Slow down! Biarkan seribu pesona menyergap mata, masuk menjernihkan pikiran. Inilah serpihan surga estetik ciptaan manusia yang eloknya diakui dunia.
Bukan tiba-tiba, tetapi turun-temurun seluruh warga telah biasa menjaga harmoni di sana.
Tata bangunan rumah selaras dengan filosofi Tri Hita Karana; prinsip keseimbangan manusia dengan alam, dengan sesama, dan elemen spiritualnya.
Melangkah masuk ke beberapa halaman, kami izin pada tuan rumah melihat-lihat area dalam. Kagum dengan arsitektur otentik dan zonasi khasnya. Bangunan depan untuk kamar tidur dan ruang keluarga. Bangunan tengah terpisah untuk dapur, serta area belakang terbuka ditata indah untuk upacara/ibadah.
Rata-rata rumah lama, namun terawat apik dengan ornamen tanaman hijau, bunga dan arca. Ada durian yang kami nikmati dan dijual juga ragam cindera mata.
"Terima kasih sudah mampir, sampai berjumpa lagi"... Sungguh sebuah kehangatan. Tak ketinggalan kak Nezan meminta foto di depan pintu dapur. Ganténggg...