Kolom Sri Nanti: Gajah Sirkus, Tambang Dan Potongan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Sri Nanti: Gajah Sirkus, Tambang Dan Potongan

Budaya ·
Kolom Sri Nanti: Gajah Sirkus, Tambang Dan Potongan

Beberapa waktu yang lalu Tanggamus dihebohkan dengan kawanan gajah yang mengamuk, merusak tanaman, menghancurkan rumah-rumah dan menyerang warga, 1 orang nenek tewas dalam kejadian, dan 7 rumah hancur. Sebagai binatang yang paling besar dan hidup di alam bebas gajah liar memang punya kekuatan yang sulit dikendalikan manusia.

Sekali nggerakin belalai, pohon kelapapun bisa tumbang.

Tapi di tempat lain, di Tanam Nasional Way Kambas gajah-gajah itu terlihat sangat kalem. Hanya diikat dengan tambang dan tambangnya diikat ke sebatang besi kecil yang ditancapkan di tanah. Gajah itu sudah nurut apa kata pelatihnya. Disuruh gerakin belalai, gerak. Disuruh joget, joget. Disuruh diam, diam.

Padahal kalau dia mau itu besi dan tambang yang mengikatnya bisa dia cabut dengan mudah dan itu pelatih beserta semua pengunjung bisa dia buat lari terbirit-birit.

Kenapa gajah sirkus begitu lemah?

Iya karena dunianya sudah dibatasi dengan sebatang besi dan tambang yang mengikatnya. Pikirannya dikondisikan oleh pelatih yang melemahkan kekuatannya. Ditambah dengan manisnya tebu dan buah-buahan lain yang setiap hari diberikan oleh para pengunjung sehingga membuatnya terjebak dalam zona nyaman.

Pelatih, Tambang dan manisnya Tebu telah membuat Gajah kehilangan kemerdekaan dan kekuatannya.

Bagaimana dengan kita?

Jangan seperti gajah sirkus ya...

Manusia terlahir merdeka jangan mau diikat dengan tambang dan manisnya gula-gula.