Kolom Sri Nanti: Kegagalan Konstruksi Bukan
Saya lahir dan besar di lingkungan pesantren, jadi faham tradisi ro'an (gotong-royong) membangun asrama dengan melibatkan santri itu sudah biasa dilakukan sejak dulu. Itu bagus, agar setelah keluar dari pesantren para santri tidak plonga-plongo saat harus ikut kerja bakti di lingkungannya.
Termasuk santri putri juga dilibatkan ikut masak-masak menyiapkan makanan untuk yang gotong-royong.
Jadi masalah kerja baktinya nggak usah di permasalahkan apalagi didramatisir dengan kerja rodi, memeras tenaga santri, dan lain-lain. Yang perlu dipermasalahkan, kenapa pihak pesantren berani membuat bangunan dengan konstruksi yang rapuh seperti itu. Dan, kenapa kegagalan kontruksi yang mengakibatkan korban jiwa hanya ditanggapi sebagai takdir.
Kalau setiap human error dianggap takdir maka kita tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik dari kemarin. Karena tidak pernah mau belajar dari kegagalan. Dan setiap kelalaian yang dimaklumi akan melahirkan kelalaian-kelalaian baru yang semakin berani.
Dan Gusti Allah jangan dijadikan tameng untuk berlindung dari kecerobohan kita sendiri. Setiap bangunan minimal harus memenuhi 3 syarat dasar: Kegunaan, Kekuatan dan Keindahan. Jangan hanya mikir kegunaan tapi rapuh dan tidak sedap dipandang mata. Mending kokoh dan indah walaupun belum berguna.