Kolom Sry S Ginting: Gereja Dan Rakyat
Gereja pernah begitu mesra dengan penguasa. Gereja, dalam hal ini Luther di abad ke-16. Mereka bahkan mengutuk protes berlebihan dari masyarakat yang dapat merusak tatanan kota, yang bisa berdampak pada tatanan gereja. Para pandita dilarang menyentuh kritik sosial dalam khotbahnya.
Surga dan neraka, ketaatan yang absolut adalah tema yang paling direkomendasikan.
Imbalan bagi gereja adalah perlindungan dari penguasa, sebagaimana gereja dianggap bisa membuat legitimasi penguasa makin sempurna. Lalu muncullah gedung-gedung gereja megah yang disokong penguasa yang, tentu saja, berasal dari pemaksaan pajak yang mencekik leher rakyat.
Para pandita disejajarkan dengan kelompok borjuis berduit, duduk di kursi empuk nan sedap dipandang mata. Hasilnya, suara penderitaan rakyat terasa jauh dari mimbar gereja. Gereja menjauh dari proletar miskin. Jemaat dipersuasi untuk pasrah sempurna berhikmat penuh. Surga dijanjikan sebagai ganjaran manut dan diam.
Itu dulu. Sekarang?