Orang Batak Tidak Peduli Kearifan
PEGERMETKEN RISONA | KABANJAHE | Setidaknya ada 2 vidio yang ramai soal penertiban kata "horas" dan "mauliate" yang ditempelkan oleh pihak Indomaret di gerainya, yakni di Berastagi (Kabupaten Karo) dan yang lainnya di Kabupaten Dairi.
2 kabupaten itu adalah wilayah adat Suku Karo dan Suku Pakpak, bukan wilayah adat Suku Batak.
Salam ke dua suku itu masing-masing "mejuah-juah" untuk Suku Karo dan "njuah-juah" untuk Suku Pakpak. Bukan "horas" sebagaimana ditempelkan oleh Indomaret di gerainya.
Menanggapi vidio ini, banyak Orang Batak yang tidak terima dan cenderung sinis menanggapi, baik dari Batak asli (Batak Silindung, Batak Samosir, Batak Humbang dan Batak Toba) dan juga beberapa yang merasa Batak. Mungkin, kalau tadi itu warung nasi, warung saksang, kos-kosan, atau fasilitas pribadi lainnya boleh-boleh saja dan tidak ada masalah. Namun, ini fasilitas tempat umum, baik swasta maupun pemerintah harusnya menghargai kearifan lokal.
Ternyata semangat menjaga dan menghargai kearifan lokal ini dipandang oleh kaum dominan atau yang merasa dominan sebagai satu tindakan rendah tak beradab. Cuma saja, pertanyaannya, ini prilaku rendah yang tak beradab atau jangan-jangan yang tidak suka penertiban untuk menghargai kearifan lokal ini adalah orang-orang picik atau takut status quo terganggu.
Mejuah-juah, Njuah-njuah bukan Horas!