Sampai Sekarang Banyak Orang Yang Gagal Paham -- Soal
Masih soal vidio viral pencopotan stiker bertuliskan "horas" dan "mauliate" di Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, masih banyak netizen Batak yang gagal paham. Apakah ini diakibatkan kurangnya informasi yang sampai kepada mereka atau memang ini masalah cara pandang. Perlu kembali kita infokan kalau Kabupaten Karo dimana salah satu TKP vidio tersebut merupakan wilayah adat dari Suku Karo, dan tempat lainnya di Kabupaten Dairi merupakan wilayah adat Suku Pakpak.
Kedua suku ini masing-masing memiliki salamnya, yakni "Mejuah-juah" untuk Suku Karo dan "Njuah-njuah" untuk Suku Pakpak. Bukan "Horas"!
Para netizen khususnya dari Suku Batak (Batak Silindung, Batak Samosir, Batak Humbang dan Batak Toba) tidak menyukai tindakan penertiban kata horas dan mauliate ini di gerai Indomart yang viral tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mencemooh serta membully tindakan tersebut. Tidak sedikit pula yang berkomentar, "jadi orang Karo kalau di Jawa jangan berkata mejuah-juah karena Jawa bukan mejuah-juah ," katanya.
Ada juga yang bilang agar Orang Karo jangan tinggal di luar Tanah Karo. Bahkan lebih parahnya lagi ada ajakan untuk sweeping usaha-usaha milik Orang Karo di luar Tanah Karo. Jelas, inilah tindakan-tindakan yang konyol, radikal dan gagal paham itu.
Kalaulah tadi kita berbicara soal aset pribadi yang mewakili entitas pribadi individual, itu sah-sah saja. Misalkan, warung kopi, warung kelontong, kedai saksang, kedai tuak, toko pupuk, rumah kos-kosan, rumah pribadi, dsb; tetapi yang terjadi ini sudah hal yang berbeda.
Ini terjadi di gerai sebuah perbelanjaan untuk umum dan di tempat umum. Apalagi ini di sebuah kota wisata. Idealnya dan sudah seharusnya sebuah fasilitas umum di tempat umum di keramaian menghormati dan menghargai tradisi lokal. Menghormati dan menghargai tradisi lokal sudah menjadi standar hidup manusia. Di manapun dan kapan pun.
Dan itulah seperti perlunya kita memahami konteks masalah!